Hidup yang Lebih Bermakna










Sepasang suami istri hidup bahagia. Sejak 10 tahun yang lalu,sang istri terlibat aktif dalam kegiatan untuk menentang ABORSI,karena menurut pandangannya, aborsi berarti membunuh seorang bayi. Setelah bertahun-tahun berumah-tangga,khirnya sang istri hamil, sehingga pasangan tersebut sangat bahagia. Mereka menyebarkan kabar baik ini kepada famili, teman-teman dan sahabat-sahabat, dan lingkungan sekitarnya.

Semua orang ikut bersukacita dengan mereka. Tetapi setelah beberapa bulan, sesuatu yang buruk terjadi. Dokter menemukan bayi kembar dalam perutnya, seorang bayi laki-laki dan perempuan. Tetapi bayi perempuan mengalami kelainan, dan ia mungkin tidak bisa hidup sampai masa kelahiran tiba. Dan kondisinya juga dapat mempengaruhi kondisi bayi laki-laki. Jadi dokter menyarankan untuk dilakukan aborsi, demi untuk sang ibu dan bayi laki-laki nya.

Fakta ini membuat keadaan menjadi terbalik. Baik sang suami maupun sang istri mengalami depressi. Pasangan ini bersikeras untuk tidak menggugurkan bayi perempuannya (membunuh bayi tersebut), tetapi juga kuatir terhadap kesehatan bayi laki-lakinya.

"Saya bisa merasakan keberadaannya, dia sedang tidur nyenyak", kata sang ibu di sela tangisannya. Lingkungan sekitarnya memberikan dukungan moral kepada pasangan tersebut, dengan mengatakan bahwa ini adalah kehendak Tuhan. Ketika sang istri semakin mendekatkan diri dengan Tuhan, tiba-tiba dia tersadar bahwa Tuhan pasti memiliki rencana-Nya dibalik semua ini. Hal ini membuatnya lebih tabah.

Pasangan ini berusaha keras untuk menerima fakta ini Mereka mencari informasi di internet, pergi ke perpustakaan, bertemu dengan banyak dokter, untuk mempelajari lebih banyak tentang masalah bayi mereka. Satu hal yang mereka temukan adalah bahwa mereka tidak sendirian.

Banyak pasangan lainnya yang juga mengalami situasi yang sama, dimana bayi mereka tidak dapat hidup lama. Mereka juga menemukan bahwa beberapa bayi akan mampu bertahan hidup, bila mereka mampu memperoleh donor organ dari bayi lainnya. Sebuah peluang yang sangat langka. Siapa yang mau mendonorkan organ bayinya ke orang lain?

Jauh sebelum bayi mereka lahir, pasangan ini menamakan bayinya, Jeffrey dan Anne. Mereka terus bersujud kepada Tuhan. Pada mulanya, mereka memohon keajaiban supaya bayinya sembuh. Kemudian mereka tahu, bahwa mereka seharusnya memohon agar diberikan kekuatan untuk menghadapi apapun yang terjadi, karena mereka yakin Tuhan punya rencana-Nya sendiri.

Keajaiban terjadi, dokter mengatakan bahwa Anne cukup sehat untuk dilahirkan, tetapi ia tidak akan bertahan hidup lebih dari 2 jam. Sang istri kemudian berdiskusi dengan suaminya, bahwa jika sesuatu yang buruk terjadi pada Anne, mereka akan mendonorkan organnya. Ada dua bayi yang sedang berjuang hidup dan sekarat, yang sedang menunggu donor organ bayi. Sekali lagi, pasangan ini berlinangan air mata. Mereka menangis dalam posisi sebagai orang tua, dimana mereka bahkan tidak mampu menyelamatkan Anne.

Pasangan ini bertekad untuk tabah menghadapi kenyataan yg akan terjadi. Hari kelahiran tiba. Sang istri berhasil melahirkan kedua bayinya dengan selamat. Pada momen yang sangat berharga tersebut, sang suami menggendong Anne dengan sangat hati-hati, Anne menatap ayahnya, dan tersenyum dengan manis.

Senyuman Anne yang imut tak akan pernah terlupakan dalam hidupnya. Tidak ada kata-kata di dunia ini yang mampu menggambarkan perasaan pasangan tersebut pada saat itu. Mereka sangat bangga bahwa mereka sudah melakukan pilihan yang tepat (dengan tidak mengaborsi Anne), mereka sangat bahagia melihat Anne yang begitu mungil tersenyum pada mereka, mereka sangat sedih karena kebahagiaan ini akan berakhir dalam beberapa jam saja.

Sungguh tidak ada kata-kata yang dapat mewakili perasaan pasangan tersebut. Mungkin hanya dengan air mata yang terus jatuh mengalir, air mata yang berasal dari jiwa mereka yang terluka. Baik sang kakek, nenek, maupun kerabat famili memiliki kesempatan untuk melihat Anne.

Keajaiban terjadi lagi, Anne tetap bertahan hidup setelah lewat 2 jam. Memberikan kesempatan yang lebih banyak bagi keluarga tersebut untuk saling berbagi kebahagiaan. Tetapi Anne tidak mampu bertahan setelah enam jam.

Para dokter bekerja cepat untuk melakukan prosedur pendonoran organ Anne. Setelah beberapa minggu, dokter menghubungi pasangan tersebut bahwa donor organ Anne tersebut berhasil. Dua bayi berhasil diselamatkan dari kematian Anne.

Pasangan tersebut sekarang sadar akan kehendak Tuhan. Walaupun Anne hanya hidup selama 6 jam, tetapi dia berhasil menyelamatkan dua nyawa. Bagi pasangan tersebut, Anne adalah pahlawan mereka, dan sang Anne yang mungil akan hidup dalam hati mereka selamanya.

=======

Ada 3 point penting yang dapat kita renungkan dari kisah ini :

SESUNGGUHNYA, tidaklah penting berapa lama kita hidup, satu hari ataupun bahkan seratus tahun. Hal yang benar-benar penting adalah apa yang kita telah kita lakukan selama hidup kita, yang bermanfaat bagi orang lain.

SESUNGGUHNYA, tidaklah penting berapa lama perusahaan kita telah berdiri, satu tahun ataupun bahkan dua ratus tahun. Hal yang benar-benar penting adalah apa yang dilakukan perusahaan kita selama ini, yang bermanfaat bagi orang lain.

Ibu Anne mengatakan "Hal terpenting bagi orang tua bukanlah mengenai bagaimana karier anaknya di masa mendatang, dimana mereka tinggal, maupun berapa banyak uang yang mampu mereka hasilkan. Tetapi hal terpenting bagi kita sebagai orang tua adalah untuk memastikan bahwa anak-anak kita melakukan hal-hal terpuji selama hidupnya, sehingga ketika kematian menjemput mereka, mereka akan menuju surga".Description: Hidup yang Lebih Bermakna Rating: 4.5 Reviewer: seputarwisata.com - ItemReviewed: Hidup yang Lebih Bermakna


Shares News - 08.54
Read More Add your Comment 0 komentar


Dengarkan Bisikan Ibu



Dengarkan bisikanku ibu!
Ibu... kini Engkau jauh dariku..
Ingin kurengkuh dalam pelukanmu
Rengkuhlah aku dalam pangkuanmu


Adalah naluriku sebagai seorang anak, meski sudah tergolong usia dewasa, tergerak perasaan dan pikiran ini, melayang jauh kepada sosok yang pernah akrab dengan dengan kehidupan masa kecilku. Mungkin bagi orang lain tidak pernah akan menjadi masalah. Tapi bukan bagi diriku. Karena itu, air mataku menetes tak terasa, saat kudengar alunan lagu tentang ibu. Sosok yang amat sangat kurindukan keberadaannya. Sosok yang selalu berada dalam ingatan dan ingin kurasakan sentuhan lembut tangannya pada kulitku.

Sudah setahun terakhir ini aku dan temanku memang tinggal di rantau dalam rangka studi. Ada masa-masa dimana aku dan temanku bertemu, berbagai rasa, suka dan duka. Obrolan kami tanpa sadar kembali mengungkit keberadaan peran seorang ibu dalam kehidupan kami. Ada yang sempat membuat aku tertegun, ketika ku dengar sahabatku bercerita tentang kerinduannya pada ibunya di tanah air yang sudah satu tahun ditinggalkannya karena harus menuntut ilmu di negeri Sakura. Kulihat air matanya pun menetes mengingat kerinduan itu.

Dia bercerita tentang betapa mengagumkan ibunya saat beliau membuatkan makanan kesukaannya yang sangat lezat. Kebanggaan itu diperkaya dengan status ibunya sebagai seorang peneliti dengan karir yang sangat cemerlang di salah satu instansi pemerintah. Namun betapapun sibuk ibunya, beliau masih menyempatkan diri untuk selalu memeluk tubuh sahabatku saat dia akan memejamkan mata. Betapapun sibuk ibunya menyiapkan pakaian yang pantas saat sahabatku hendak wisuda di akhir kuliahnya adalah bagian lain yang tidak pernah dia lupakan. Sahabatkupun selalu meminta nasehat ibunya saat dia tengah dirundung masalah. Bagi sahabatku, ibunya adalah sosok wanita yang pantas ditirunya.

Sedangkan bagiku, ibu adalah sosok yang tidak pernah kurasakan kehadirannya. Saat aku kedinginan dan ketakutan, aku hanya mampu berdiam di kamar dan memeluk tubuhku sendirian. Bahkan saat ku terima dua buah undangan khusus yang diberikan universitas saat wisuda istimewaku, aku tidak tahu siapakah yang harus turut merasakan kebahagiaanku saat itu. Aku hanya terdiam saat itu tanpa tahu apa yang hendak kulakukan. Atau saat aku merasa sedih di negeri Sakura inipun, aku tidak tahu harus menceritakannya pada siapa. Lagi–lagi aku hanya bisa menuliskan untaian kalimat yang melukiskan perasaanku di laptopku.

Akupun tidak tahan untuk menahan rasa kerinduan yang teramat dalam atas ibuku. Rasa rindu itu semakin membara terasa saat ku harus menuntut ilmu di negeri Sakura ini. Entah sudah berapa cara yang kucoba tuk menemukan ibuku tercinta. Tapi Allah mungkin belum menakdirkan pertemuan kami berdua.

Terlepas dari kekurangan dan kelebihan ibuku sebagai seorang hamba Allah, mungkin ibuku bukanlah seorang yang istimewa seperti ibu sahabatku. Beliau hanyalah seorang wanita biasa yang bahkan tidak bisa membaca dan menulis karena memang tidak pernah mengenyam pendidikan. Beliau adalah seorang wanita yang harus menjalani liku-liku kehidupan dengan begitu kerasnya. Beliau juga harus berjuang mengais rezeki untuk sesuap nasi untuk anaknya dengan jalan meminta uang dari para pemilik kendaraan beroda empat.

Sejak kecil hingga 22 tahun kini, aku hanya bisa menatap teduh wajah ibuku sebanyak tiga kali, yaitu saat aku duduk di taman kanak- kanak. Saat itu ibu masih memakaikan seragam sekolah TK ku dan juga masih menyisir rambutku. Tapi tiba- tiba dengan alasan yang tidak ku mengerti saat itu, ibu meninggalkanku.

Aku menangis sambil memegangi kedua kaki ibuku dan memohon agar tidak meninggalkanku. Tapi ibu menepiskan kedua tanganku dan berlalu meninggalkan diriku yang masih kecil tanpa menoleh lagi ke arahku. Tanpa mengerti apa latar belakang pertengkaran antara ibu dan ayahku, kusadari itulah penyebab utama kepergian beliau.

Setelah kepergian ibu, kakeklah yang memandikan dan memakaikan seragam sekolah juga menyisir rambutku. Sementara ayahku pun juga meninggalkanku sendirian. Beliau memilih menikmati hidupnya dengan seorang istri barunya tanpa berusaha mengerti betapa saat itu aku sangat membutuhkannya. Aku selalu berusaha menemui beliau di ‘istana’ barunya, tapi beliau rupanya lebih mencintai kehidupan barunya dan melupakan sosok mungilku dari masa lalunya.

Ayahku hanya terdiam tak mampu bergerak saat ku menangis meminta kehadiran beliau setiap minggu ke rumah kakekku. Akhirnya hanya sosok kakek dan neneklah yang bersamaku dan mengusap air mataku juga menemani tidurku. Masa kecilku kulalui tanpa mengerti sepenuhnya siapa sosok ibuku. Saat kutanya pada kakek tentang ibu, beliau selalu memintaku untuk senantiasa bersabar dan mendoakan ibuku.

Entah di tahun ke berapa, aku kurang ingat betul tepatnya, suatu hari saat aku pulang dari sekolah, kudapati sosok wanita yang tengah mengendong seorang anak kecil. Wanita itu terlihat kurus dengan pakaian sederhana yang dikenakannya dan tidak kulihat goresan kosmetik sedikitpun di wajahnya. Namun kulit wajahnya masih memancarkan sisa kecantikan masa lalunya. Kulihat tangannya hanya memegang sehelai selendang lusuh yang sebagian dibelitkan ke tubuh mungil di dekapannya.

Tiba- tiba sosok wanita yang terlihat asing di mataku itu memeluk tubuhku. Sebagai anak kecil yang kurang mengerti akan bagaimana harus menyikapi suasana ini, aku cuma tertegun diam tanpa bisa berkata apa-apa. Aku kemudian berlari mendekati kakekku yang segera merengkuhku dalam pelukannya. Saat itu kulihat air mata menetes di wajah kakekku yang segera kuhapus dengan tangan kecilku. Kakek kemudian berkata padaku, "Nak, jangan takut… dialah ibumu yang selama ini selalu kau tanyakan. Ayoo… beri salam dan cium ke dua tangannya agar hidupmu selalu bahagia."

Tapi aku tetap tak mampu menggerakkan tubuhku menghampirinya. Aku hanya tetap terdiam dalam pelukan kakekku seraya memandang wajah sosok wanita itu yang juga tengah memandangku sambil meneteskan air mata yang mengalir deras di kedua pipinya. Bahkan saat ibu harus pamit balik ke rumahnya di Ibukota setelah tiga hari lamanya berada bersamaku. Aku tidak sanggup meneteskan air mata. Aku tidak mampu memahami kenapa hal itu terjadi.

Suatu hari, dua minggu setelah Lebaran, ketika memasuki perguruan tinggi di tahun pertama, Ibu datang kembali menemuiku. Saat itu kakekku pun telah tiada dan hanya seorang wanita tua yang tidak kuasa berjalan yang ada bersamaku. Ibu terlihat amat kurus dan masih tetap mengenakan pakaian yang begitu sederhana tanpa polesan lipstik di bibirnya.

Kulihat wajah beliau yang kusam seperti menangung banyak masalah kehidupan. Beliau terlihat lebih tua daripada sebelumnya. Saat itu ibu menangis memelukku sambil memberikan sepasang baju bermotif bunga kecil warna biru muda yang hanya dibungkus dengan plastik putih tipis dan berkata : "Maafkan ibu nak, karena hanya baju ini yang bisa ibu berikan padamu," ucap ibuku sambil berkaca- kaca.

Aku tidak mampu menggerakkan bibirku saat kuterima sepasang baju pemberian ibuku. Aku hanya bisa meneteskan airmata sambil ku usap air mata ibuku. Beliau kemudian bercerita tentang apa yang telah dilakukannya padaku sambil terus memeluk erat tubuh mungilku.

Ya! ibuku ternyata seorang peminta-minta yang membawa kedua adik tiriku yang masih kecil untuk ikutan mengamen hanya untuk sekedar mencukupi kehidupan mereka di ibukota. Saat kutanyakan tentang sosok ayah adik tiriku, Beliau hanya bisa meneteskan air mata sambil mengatakan bahwa laki-laki itu telah meninggalkannya tanpa memberi nafkah sedikitpun dan Ibuku tidak pernah tahu di mana keberadaan laki-laki itu saat ini.

Aku berulang kali memeluk beliau dan mengusap kedua air mata yang menetes di kedua pipi beliau. Semakin merasa hatiku kian teriris pedih saat kuajak beliau untuk menunaikan shalat. Beliau menggeleng sedih dan mengatakan bahwa beliau tidak bisa menunaikan shalat. Aku merasakan suatu goresan pisau tajam tengah menusuk hatiku saat ibu terbata-bata melafalkan beberapa bacaan shalat mengikutiku.

Aku menyadari, hidup ini terkadang memang keras. Aku dibesarkan dalam lingkungan keluarga tanpa sosok ibu yang bagi kebanyakan mungkin telah banyak memberikan bahan pelajaran kewanitaan menyongsong kehidupan di masa mendatang. Aku kadang merindukan yang demikian. Entah itu soal jahit menjahit, memasak, arisan, pengajian, hingga dongeng sebelum tidur, dari seorang ibu terhadap anak perempuannya.

Setelah seminggu lamanya di pertemuan kedua kami, ibu kembali pergi meninggalkan diriku lagi meski telah berulang kali kuminta agar ibu tinggal bersamaku dan nenek. Yaa.. saat itu nenek masih belum bisa menerima kehadiran ibuku kembali di tengah kebersamaan kami. Wajah nenek selalu memancarkan ketidaksenangan dan tak henti-hentinya melontarkan perkataan memarahi dan mengusir ibuku. Saat itu sambil menangis ibuku berlari meninggalkan rumahku tanpa sempat memberikan pesan apapun.

Sesudah itu, tak pernah kudengar lagi kabar tentang ibuku. Aku telah berusaha menemukannya dengan menyusuri berbagai gang kecil di daerah terpencil Ibukota sebelum kutinggalkan negeri tercinta, namun hingga detik ini aku tidak pernah menemukan ibuku.

Sementara di negeri Sakura, aku senantiasa bertanya pada hatiku, adakah ibuku masih meminta-minta? Adakah ibuku tengah menggeluti perihnya kehidupan di tengah kemiskinan ini padahal anak perempuannya nun jauh disana jauh lebih baik kondisinya? Ada rasa berdosa yang tidak dapat saya cari penyebabnya dalam diri ini.

Kalau harus mengingat sepotong baju yang pernah diberikan kepadaku waktu itu, rindu pada beliau ini sulit untuk dikemukakan dengan kata-kata. Terkadang aku membayangkan, andai saja aku diberi kesempatan mengenakan Kimono pada tubuh ibuku, sebagai hadiah kecil sang anak terhadap beliau, betapa bahagianya hati ini.

Sementara Jepang dan manusianya sibuk menyongsong majunya teknologi dan pesatnya komunikasi, hanya sepotong doa dan air mata yang kuharapkan bisa mengurangi kerinduan ini pada ibuku.

Yaa Allah.......
Dzat Yang Maha Menguasai segala sesuatu.....
Bukanlah sesuatu hal yang sulit bagi Engkau duhai Allah
Tuk pertemukan hamba dengan ibu hamba


Duhai Allah......
Di bulan Ramadhan yang suci ini
Kumohon sampaikan rasa kangen hamba kepada ibunda
Kumohon bisikkan ke dalam hati ibunda
Bahwa hamba sangat merindukannya

 Description: Dengarkan Bisikan Ibu Rating: 4.5 Reviewer: seputarwisata.com - ItemReviewed: Dengarkan Bisikan Ibu


Shares News - 08.36
Read More Add your Comment 0 komentar


Gara2 Gosip



Si Dini memang keterlaluan hari ini. Dia bilang sama teman-teman rohis lain kalau aku pacaran sama Ryan. Huh menyebalkan! Dasar tukang gosip! Kalau saja bukan sahabat, sudah aku hajar dia!!! Sebenanya aku ingin acuh dengan gosip murahan itu. Tapi, aku tidak enak sama teman yang lain apalagi sama Ryan dan mbak Wulan. Disangkanya aku yang duluan suka sama Ryan. Maklumlah, sangkaan itu pasti ada, soalnya aku kan memang bisa dibilang anak nakal yang baru insaf. Dan bergabungnya aku di Rohis, baru beberapa bulan terakhir ini. Pun dengan jilbab yang kupakai saat ini. Dan yang pasti, teman-temanku tidak akan menuduh Ryan yang memulai. Karena dia kan ketua Rohis sekolah kami. Juga sekaligus pembimbing mentorku. Apalagi suatu hari, saat memberikan materi, Ryan sempat bilang, kalau pacaran itu tidak ada dalam Islam.

"Emangnya, ukhti Eka sudah siap menikah? Kalau sudah ya syukur. Tapi gimana dengan sekolahnya?" Sindir mbak Wulan tadi siang. Aku hanya terdiam mendengar sindiran pembimbing tahsinku itu. Sakit memang disindir seperti itu. Tapi ya, apa boleh buat. Aku tak mau membela. Karena pembelaanku akan percuma saja. Karena hampir seluruh murid sekolah ini tahu dan percaya tentang gosip murahan itu. Pun termasuk guru-gurunya. Maklumlah Ryan kan memang terkenal di sekolah ini. Selain alim dan baik, ia juga murid terpintar yang sering sekali membawa nama harum sekolah dengan kepandaian tilawah qurannya. Bukan itu saja, wajahnya yang tampan, membuat Ryan semakin dipuja cewek-cewek sekolahku. Ya, beda-beda tipislah dengan Roger Danuarta, begitu cewek-cewek kelasku bilang.

25 Maret 2002

"Ka, kamu dapet salam lho dari Ryan", Dini mencolek bahuku. Dan entah kapan dan dari mana datangnya tiba-tiba saja si biang gosip ini duduk di sebelahku yang sedang asyik membaca buku di perpustakaan sekolah.

"Alaiki wa'alaihissalam." Jawabku acuh.
"Heh, kok acuh begitu sih, seneng dong! Masak disalamin orang ganteng dan alim kok dingin aja." godanya.
"Eh, tahu enggak si Ryan kan…."
"Sst, jangan berisik" potongku sebelum Dini melanjutkan gosip-gosip murahannya.
"Iiih dengerin dulu, oke deh aku pelan-pelan aja ya ngomongnya." bisiknya setengah memaksa.
"Din, ini perpustakaan, dan ini tempat untuk baca buku, bukan untuk ngegosip!" jawabku kesal.
"Tapi kamu musti dengerin ini, Ka. Ryan naksir lho sama kamu!" katanya, tak menghiraukanku.
"Bodo!" kesalku, dan lalu pergi meninggalkan Dini.

27 Maret 2003

"Ukhti Eka, boleh saya bicara?" tanya Ryan dingin padaku, usai shalat dzuhur di halaman masjid sekolah. Deg!… tiba-tiba saja, aku teringat dengan omongan Dini tempo hari. Kalau sebenarnya Ryan naksir sama aku. Jangan-jangan… Ryan memang mau membicarakan itu padaku. Maaf bukannya aku geer, tapi kenapa dia bisa seceroboh ini. Mestinya ini tidak boleh terjadi. Dia kan seorang ikhwan. Bukannya dia pernah bilang kalau pacaran dalam Islam itu tidak ada. Kenapa…., ah aku tak mau menduga-duga.

"Boleh, tapi….gimana kalau saya bawa ukhti yang lain buat nemenin. Soalnya nggak baik kalau kita ngomong hanya berdua aja."

"Enggak perlu, saya Cuma sebentar saja kok. Saya Cuma mau bilang, sebaiknya simpan saja rasa cinta ukhti itu. Karena terus terang, saya kurang berminat untuk pacaran. Bukankah saya pernah bilang kalau pacaran itu…, ah ukhti tau sendiri, kan? Maaf, kalau penolakan ini melukai hati ukhti, Assalamualaikum!" Katanya datar tanpa ekspresi, dan lalu pergi.

Dan deg.. deg…, jangtungku berdetak semakin keras. Bengong. Sampai beberapa saat, aku masih terdiam tak mengerti. Dan… "Astagfirullah!!!", sadarku tiba-tiba. Ya, Allah apa ini?

27 Maret 2002

Malam hari… Aku masih memikirkan kejadian tadi siang. Apalagi kalau teringat dengan ucapan Ryan tadi. Sungguh memalukan. Mukaku benar-benar seperti ditampar, bahkan mungkin seperti ditendang atau ditonjok. Terus terang, sakit rasanya hati ini. Dan sungguh, aku belum pernah sekalipun merasakan sesakit dan semalu ini. Aku benci kamu, Ryan!

13 Mei 2002

Sudah dua bulan lebih aku tak menegur Ryan. Aku tahu yang aku lakukan adalah sebuah kesalahan. Apalagi menurut mbak Wulan, Rasulullah pernah bersabda, bahwa tidak akan masuk syurga orang yang memutuskan silahturahmi. Pun haram bagi seorang muslim mendiamkan (memusuhi) saudaranya lebih dari tiga hari. Tapi jujur, aku terlanjur sakit hati dan membencinya. Rasa respek yang semula tertanam dalam hatiku. Kini, musnah sudah. Yang ada dalam hatiku, hanyalah kebencian dan kebencian. Bahkan ketika kami berpapasan pun, sama sekali aku tak mau melihatnya. Walaupun ketika berpapasan seringkali ia tersenyum dibarengi mengucapkan salam terlebih dahulu padaku.

Dan, "Assalamualaikum ukhti Eka, maaf ukhti, sepertinya lama sekali ya ukhti nggak ikut pengajian", Katanya kepadaku. Saat itu kami berpapasan di Perpustakaan.

Aku tak menjawab ucapan salamnya. Aku hanya tersenyum sinis padanya dan lalu pergi meninggalkannya. Ya memang, semenjak gosip itu menyebar luas, aku memang jadi malas untuk ikut pengajian lagi. Kadang Mbak Wulan sering bertanya mengenai ketidak hadiranku. Tapi aku tak peduli! Bahkan, seringkali aku membohonginya dengan berbagai alasan.

13 Mei 2002

Malam hari… Seperti hari-hari sebelumnya, aku tak bisa tidur lagi malam ini. Ya, selalu begitu kalau aku bertemu Ryan siangnya. Kebencianku semakin besar padanya. Namun, kebencian itu selalu dibarengi penyesalan. Ya, aku selalu menyesal kalau telah mengacuhkannya seperti tadi siang. "Aaah…, gara-gara si Dini sih." kesalku dalam hati. Tiba-tiba tanpa terasa air mataku meleleh membasahi pipi ini. "Ya Allah, apa yang terjadi dengan diriku ini?" ratapku. "Padahal akukan baru saja ingin bertobat pada-Mu ya Allah", kataku semakin menjadi. Dan hujan Air mata pun terus mengalir tanpa henti. Sampai akhirnya, akupun tertidur lelap.

14 Mei 2002

Pagi harinya… seluruh badanku sakit dan kepalaku pusing sekali. Otomatis aku tak masuk sekolah hari ini. Dan kasian mama, gara-gara aku sakit, mama pun jadi ikut repot.

Tiba-tiba, "Ka, ada temanmu di bawah" kata mama dari balik pintu.
"Siapa, ma?"
"Enggak tahu mama nggak tanya, mau mama tanyain dulu?"
"Enggak usah ma, biar Eka turun aja!"

Dengan kepala yang masih berat, aku lalu turun ke bawah untuk menemui tamuku. Dan saat aku sampai di ruang tamu… tiba-tiba… Ya Tuhan, itu kan mbak Wulan, Ryan dan… Dini, ya itu Dini. Ya, Allah kenapa Dini berjilbab?

Belum habis kepenasaranku, tiba-tiba mbak Wulan dengan senyum hangatnya mencoba menghampiri dan memapahku. Diikuti Dini, yang kemudian berlari kearahku dan langsung memelukku.

"Ka, maafin aku ya?, Aku salah, aku jahat sama kamu." Dini menangis dipelukku.

"Iya, Ka, aku juga minta maaf karena telah menuduhmu yang bukan-bukan. Dini sudah cerita semuanya. Itu ia lakukan itu karena ia kesal dan iri padamu. Iri dan kesal karena kamu telah berubah. Dan Ia merasa kalau ukhti sudah meninggalkannya." kata Ryan.

Lalu kupeluk Dini semakin erat, "Din, siapa bilang aku akan meninggalkanmu?, Walaupun aku sudah berubah, rasa sayangku tak akan berubah padamu. Karena kamu sahabat terbaikku." kataku dengan perasaan lega.
"Makasih ya Ka!, kamu baik banget" ujar Dini.
"Din, kamu cantik lho pake jilbab!!".Description: Gara2 Gosip Rating: 4.5 Reviewer: seputarwisata.com - ItemReviewed: Gara2 Gosip


Shares News - 08.22
Read More Add your Comment 0 komentar


Anugrah Terindah



Anak lelaki itu berumur lima atau enam tahun. Ia mengenakan kemeja putih dan pullover kotak-kotak hijau dengan logo taman kanak-kanak di dada kiri. Di bahunya tersandang tas punggung merah dan di dadanya tersilang tali botol minuman. Ia kelihatan lucu dan manis.

Begitu naik ke dalam angkot, bocah itu menunjukkan hasil origaminya pada wanita yang mungkin ibunya. Seekor burung yang sedikit kusut dan penyok. Ia juga menyanyikan lagu baru yang diajari gurunya hari itu.

Lihat ibu keretaku yang baru
cukup besar untuk ayah dan ibu
roda tiga buatanku sendiri
dari kulit buah jeruk bali..."


Aku tersenyum geli mendengar suaranya yang agak sumbang tapi penuh semangat. Bocah itu balas tersenyum padaku, kemudian kembali asyik memberondong ibunya dengan berbagai cerita. Mulutnya tak henti mengunyah donat yang barangkali dibelikan ibunya di depan sekolah. Ibunya menyahut sesekali dengan anggukan atau gumaman setengah tak peduli, sementara tangannya mengibaskan lukisan krayon anaknya untuk menghalau panas.

Aku tidak menyalahkannya. Cuaca siang itu memang panas dan kemacetan jalan membuat udara pengap. Melihat bungkusan yang terserak di kakinya, aku yakin ia telah menghabiskan paginya untuk berbelanja kebutuhan dapur. Tak heran ia kelihatan sangat letih, mengantuk dan tak begitu bersemangat mendengar cerita anaknya di sekolah hari itu.

Atmosfer yang menyengat tidak mengalihkan perhatianku dari anak itu. Kureguk tiap kata dan lagu yang dinyanyikannya seperti pengelana kehausan yang menemukan wadi di tengah gurun. Alangkah rindunya aku akan semua itu. Aku tak ingin membandingkan anakku dengan bocah lucu di angkot itu, tapi mau tak mau Khalid singgah ke dalam benakku dan merusak kenikmatanku.

Setiap kali memeriksakan diri selama mengandung Khalid, bidan selalu mengatakan kehamilanku normal dan bayiku sehat. Karena itu aku dan suami sama sekali tak siap waktu dokter memberi tahu bahwa Khalid tidak normal. Ia lahir dengan Down syndrome.

Menyakitkan. Masa depan anakku sudah ditentukan oleh dokter hanya beberapa menit setelah kelahirannya. Khalid tidak akan tumbuh seperti anak normal dan dia tidak akan bisa menjadi orang dewasa normal yang mampu mengurus dirinya sendiri.

Selain itu dokter juga menemukan kelainan pada jantungnya yang harus diperbaiki dengan pembedahan. Ada juga gangguan mata dan tonsil. Hal yang menurut dokter biasa menimpa anak Down syndrome.

Shock yang kualami setelah melahirkan Khalid cukup berat hingga aku harus dirawat agak lama di rumah sakit. Aku sangat tertekan hingga bahkan tak bisa menyusui Khalid. Dokter memperkenalkanku dengan wanita pakar penanganan anak Down syndrome. Wanita itu memberikan buku-buku dan brosur kepada kami.

Tapi, semua yang kubaca malah semakin membuatku tertekan. Sejak dokter menyatakan bahwa aku positif mengandung, aku selalu berdoa dan bermimpi tentang seorang anak yang cerdas dan lincah. Anak yang akan kubimbing mengenal Allah dan Rasul-Nya. Yang akan kuajari mengaji dan shalat agar ia bisa mendoakan kedua orang tuanya. Ia akan kubawa tafakur alam ke tempat-tempat yang indah agar pandai bersyukur dan memiliki sifat tawadhu.

Aku akan memperkenalkannya pada saudara-saudaranya yang yatim dan papa agar hatinya lembut dan peka. Yang akan mencintai buku-buku seperti aku dan ayahnya. Anak yang akan jadi seorang pejuang di jalan Allah, demi kebangkitan dan kejayaan Islam seperti panglima gagah itu, Khalid bin Walid.

Kubayangkan jari mungil anakku menyusuri huruf-huruf dalam lembaran mushaf Al-Qur'an. Jika lelaki, ia pasti lucu dalam baju koko dan peci mungilnya dan jika perempuan, ia pasti manis dalam jilbab kecilnya yang berbunga dan berenda.

Rasanya aku bahkan sudah bisa mendengar suaranya yang bening melantunkan ayat-ayat suci itu. Suara terindah yang pernah kudengar.

Lalu ke mana bisa kukubur kecewaku saat mendapati Khalid tak mungkin mewujudkan semua impianku. Aku hanya bisa berdoa siang malam memohon kekuatan. Aku mengintrospeksi diri, mengingat kembali apa yang telah kulakukan hingga Allah menghukumku dengan memberikan Khalid.

Hingga suatu hari kalimat itu menohokku. Anakku adalah amanat-Nya, bukan hukuman, bukan aib. Hanya titipan, bukan milikku. Apakah aku berhak menggugat jika titipan-Nya ternyata tidak seperti anak-anak lain? Aku hanya ditugaskan menjaga dan mengasuhnya dengan cinta, karena ia dititipkan Allah yang rahman dan rahim-Nya tak pernah surut dari sisiku. Bukan tugasku menilai apakah Khalid layak jadi anakku atau tidak. Setelah itu aku kembali menemukan ketenangan.

Tapi tak urung kesedihan itu kerap. Sangat menyakitkan. Tiap kubawa Khalid ke dokter dan melihat ibu lain dengan bayi seumur Khalid, aku kembali terbenam dalam kepiluan. Entah untuk Khalid atau untuk diriku sendiri.

Bulan demi bulan berlalu. Sementara bayi lain mulai tertawa dan mengeluarkan suara-suara lucu, Khalid hanya diam. Ia memandang kosong ke depan.

Tiap hari suamiku dan aku harus bergantian merangsang otaknya dengan mainan warna-warna dan kerincingan yang ribut. Khalid baru menunjukkan reaksi saat usianya hampir delapan bulan.

Khalid baru belajar berjalan di usia dua tahun. Bicaranya tak pernah selancar anak-anak lain dan kosa katanya sangat terbatas. Ia tak bisa mandi dan berpakaian sendiri hingga usianya hampir sembilan tahun. Ia harus disuapi tiap waktu makan sampai ia bisa makan sendiri beberapa bulan terakhir ini.

Yang paling menjengkelkan, sulit sekali membiasakannya buang air di kamar mandi walaupun aku dan suamiku sudah mengajarinya selama delapan tahun dari sepuluh tahun usianya.

Mengajari Khalid salat dan mengaji hampir tak mungkin. Khalid hanya bisa mengikuti gerakan-gerakan salat tanpa bisa menghafal bacaannya.

Setelah beberapa lama, kami menyadari kesalahan kami dan mulai dari awal sekali. Mengakrabkan Khalid dengan Allah dan Islam. Sesuatu yang lebih mudah dilakukan dan dipahami Khalid.

"Di belakang rumah ada pohon jambuu..." suara lantang bocah berseragam TK diangkot itu mengembalikan perhatianku pada polahnya yang kocak. Tapi kali itu aku tak bisa menikmatinya tanpa merasa iri. Iri pada ibu yang tak menyadari besarnya nikmat Allah yang dimilikinya. Ada kegeraman dan rasa kasihan pada diri sendiri yang tiba-tiba bergolak dan menenggelamkanku.

Membuat dadaku sesak dan leherku tercekik. Aku tak tahu apakah harus menyesal atau gembira saat anak itu akhirnya turun dari angkot.

Di bangku yang mereka tinggalkan kulihat burung-burungan kertas itu gepeng. Kupungut dan kuperbaiki. Tiba-tiba mataku kabur oleh air mata. Khalid tak bisa melukis dengan krayon atau membuat origami. Koordinasi tangannya lemah sekali.

Dalam kepalanku yang gemetar, burung-burungan itu kuremas menjadi gumpalan kertas. Aku tak sanggup lagi menahan isak. Dengan suara tercekat kusuruh sopir berhenti. Kusodorkan ongkos dan turun, walaupun rumahku masih jauh.

Aku duduk di halte yang sepi. Menarik nafas dalam-dalam dan mengeringkan air mata. Saat aku menengadah mataku tertambat pada papan putih di seberang jalan. Sebuah masjid. Ya Allah, inikah teguran-Mu.? Aku menyeberang. Segera kuambil wudhu dan shalat dua rakaat. Air mataku menetes saat kubaca ayat kedua belas dari surat lukman... Anisykurlillahi....

Usai mengucap salam aku tercenung. Kekalutan yang sempat menguasai sudah berhasil kukendalikan. Aku merasa kosong, tapi damai. Lalu satu- satu fragmen kehidupan Khalid mulai kembali ke dalam benakku. Bukan gambaran muram tentang kekurangannya, tapi keistimewaan-keistimewaan kecil yang mengimbangi dan melengkapi hidupnya.

Khalid suka sekali musik. Ia sulit menangkap dan menghafal lirik, tapi kenikmatan yang terlukis di wajahnya saat mendengarkan musik adalah keindahan tersendiri. Ia juga tak pernah nakal dan usil, selalu ramah dan murah senyum. Ia tak pernah marah dan ngambek, dan jika dimarahi, cepat kembali ceria.

Ia sangat mencintai adiknya Fatimah, yang lahir empat tahun lalu. Kami sempat khawatir Khalid akan cemburu dengan kehadiran adiknya. Tapi ia malah antusias membantuku mengurus Fatimah. Sering kudapati Khalid duduk menatap adiknya yang tertidur dengan ekspresi terpesona yang tak terlukiskan.

Fatimah normal dan cerdas sekali tapi ia menerima abangnya tanpa syarat. Kemesraan di antara keduanya selalu menerbitkan syukur di hatiku dan ayah mereka. Mengurus Khalid memang menuntut kesabaran dan kegigihan ekstra dibandingkan mengasuh anak biasa. Tapi Khalid memang bukan anak biasa.

Ia telah mengajarkan kepada kami makna mencintai tanpa pamrih yang hakiki. Di zaman saat orang memburu segala yang superlatif; tercantik, terpandai, tergesit, anakku tidak akan bisa bersaing. Ia tidak mungkin menjadi teknolog, ekonom atau da'i tersohor.

Tapi apakah itu akan mengurangi cinta kami padanya? Mengurangi kegembiraan melihat prestasi-prestasi kecilnya yang dianggap remeh dan sepele orang lain seperti bisa berpakaian dan makan sendiri? Aku dan ayahnya tak akan memperoleh apa-apa darinya. Kemungkinan besar Khalid akan terus tergantung pada kami. Dan setelah kami tak sanggup lagi, mungkin pada Fatimah.

Tapi kami memang tak lagi mengharapkan apapun darinya. Kami hanya mencintainya. Kudorong gerbang rumah dan kuserukan salam. Sahutan riang menyambutku. Pintu terkuak. Fatimah menghambur memelukku sementara abangnya tersenyum lebar sambil berjalan goyah di belakangnya.

"Ibu bawa apa, bawa apa?" tanya Fatimah. Ia memekik ketika kukeluarkan sekantung mangga ranum dari keranjang belanjaku. Khalid tersenyum. Matanya yang semula kosong berbinar. Mangga adalah buah kesukaannya.

Aku masuk ke kamar untuk berganti baju setelah berpesan pada pembantu untuk mencuci dan mengupaskan mangga buat anak-anak. Saat aku keluar, mereka tidak berada di meja makan.

Kupanggil mereka dan kudengar sahutan dari halaman belakang. Di depan kandang burung parkit Fatimah melonjak-lonjak dan tertawa melihat abangnya dengan sabar menyodorkan potongan mangga lewat jeruji bambu.

"Ayo kuning! Jangan diam saja! Tuh diambil si hijau deh!" teriak Fatimah. Satu demi satu burung-burung parkit dalam kandang terbang menyambar potongan mangga dari tangan Khalid. Aku bertasbih. Mataku pedih. Sudah lama aku mengamati keistimewaan Khalid untuk mencintai dengan keikhlasan yang bersih dari egoisme anak seusianya. Cintanya sangat tulus pada burung-burung kesayangan suamiku, pada ikan hias dan ayam kate yang kami pelihara untuk mengajar anak-anak bertanggung jawab.

Bahkan pada bunga-bungaku di kebun. Ia gembira mengurus semua itu, walaupun tak pernah mendapat imbalan apapun dari kami. Kelembutannya terulur bahkan pada kucing-kucing liar yang sering diberinya makan atau anak-anak tetangga yang kerap mendapat bagian dari jatah kue dan buahnya tanpa menuntut balasan apapun.

Aku memang tak punya alasan untuk bersedih dan kecewa. Khalid mungkin tak bisa membaca dan mengaji. Tapi perasaannya halus dan penuh kasih sayang. Dan aku sangat bersyukur atas kelebihannya.Description: Anugrah Terindah Rating: 4.5 Reviewer: seputarwisata.com - ItemReviewed: Anugrah Terindah


Shares News - 08.21
Read More Add your Comment 0 komentar