Mencabut Rumput



Halaman gondrong. Itulah kesan saya setiap kali memandang ke teras depan. Harapan untuk punya waktu cukup untuk merapikan pekarangan selalu saja pupus ditelan segudang rutinitas harian yang tidak kunjung berakhir.

Pagi ini, saya terbangun, menatap jam dinding: pukul lima subuh. Lamat-lamat terdengar seorang laki-laki melantunkan ayat-ayat suci. Sang bayi mungil masih lelap dalam tidurnya. Sambil menatap langit-langit kamar, ingatan melayang ke istilah yang populer di mailing list alumni SMU saya: Thank's God, It's Friday.

Dulu, saya suka tertawa membaca judul email seperti itu. Kesan pertama adalah ungkapan frustrasi. Penuh penderitaan menjalani lima hari kerja senin sampai jumat. Kenapa tidak bisa dinikmati saja semua aktivitas harian, sehingga semua hari terasa indah? Begitu sok tahunya saya waktu itu, mentang-mentang tidak biasa dikejar deadline yang ada konsekuensi nyata dan kerasnya bila tidak ditepati.

Saya ibu rumah tangga. Tak pernah jadi mahasiswi ataupun karyawati. Praktis, kantor saya di rumah. Dan hampir bisa dikatakan, saya adalah bosnya, di mana manajer adalah suami. Pada dasarnya, pekerjaan sebagai ibu rumah tangga juga punya deadline dan konsekuensi. Hanya saja, tak begitu nyata terasa eksistensinya. Taruhlah misalnya, deadline untuk selesai menyiapkan sarapan dan bekal sekolah adalah pukul tujuh pagi.

Kalau itu dilanggar, konsekuensinya adalah anak terburu-buru berangkat dan bisa ada yang kelupaan. Kalau itu barang yang penting sekali, saya mesti pergi mengantarkannya ke sekolah, tentu saja sambil menggendong Si Bungsu dan menggandeng Si Tengah. Konsekuensi yang masih bisa saya toleri.

Bagaimana kalau jadinya malas masak? Makan yang instan-instan saja? Konsekuensinya, anak dan suami gampang sakit. Jalan keluarnya, ke dokter. Kalau terlalu sering, kelak baru menyesal anak tumbuh kurang gizi dan terhambat kecerdasannya. Prestasi suami di kantor bisa menurun. Konsekuensi yang cukup lama rentang waktunya, sehingga bisa melalaikan.

Bayangkan kalau deadline yang terikat dengan professor, misalnya bagi seorang mahasiswa. Atau deadline yang dipantau supervisor bagi para karyawan-karyawati. Tentunya mereka tidak punya banyak pilihan membuat urut-urutan aktivitas harian. Wajar saja, kalau dari mereka lahir istilah yang mengungkapkan suka cita akan datangnya akhir pekan.

Namun, akhir-akhir ini saya mulai ikut bergumam di Jumat pagi, Thank's God, It's Friday. Karena ternyata, keinginan menggebu-gebu untuk bisa rutin belajar, membuat saya menanti-nanti akhir pekan. Di mana saya bisa menikmati subuh lebih lama, sampai anak-anak bangun, tanpa perlu dikejar deadline membuat bekal. Bisa dibantu suami pergi belanja atau mengasuh anak.

Cahaya lembayung pagi Sabtu ini memang saya sambut dengan suka cita. Setelah kemarin pagi latah bergumam, "Thank's God, It's Friday." Saya menghabiskan waktu subuh, jam lima sampai jam tujuh, merapikan pekarangan. Rumput-rumput liar dicabut. Ketika tangan jari-jari mulai sakit karena terlalu banyak bergesekan dengan tanah dan batang rumput, saya mulai malas bersusah payah. Ambil clurit, lalu babat.

Tiba-tiba saja datang pikiran, apa gunanya membabat bagian atasnya saja, sedangkan akar dan tunasnya masih banyak di tanah. Sebentar saja, mereka pasti tumbuh lagi. Memang sih cepat sekali pekarangan jadi bersih, tapi... tetap saja ada perasaan tidak nyaman. Mencari akar rumput, apalagi yang jenisnya tumbuhan menjalar, memang butuh waktu cukup lama dibandingkan membabat. Tapi ada perasaan nikmat dan puas ketika yakin bukan cabang yang tercabut, melainkan akarnya.

Pikiran saya malah melayang ke cara menyelesaikan suatu masalah. Seringkali begitu, kita malas bersusah-susah menggali sampai ke akar masalah. Bahkan seringkali kita asyik memangkas persoalan di bagian tepi-tepinya saja. Hasilnya, masalah itu tetap tumbuh, lalu babat, tumbuh lagi. Akhirnya waktu kita habis berputar-putar dalam masalah yang sama tanpa ada penyelesaian yang memuaskan.

Saya jadi sangat tertarik dengan fenomena pencabutan rumput ini, lalu coba ingat-ingat lagi uraian yang banyak diterangkan dalam buku-buku pemberdayaan diri. Salah satunya yang paling berbekas adalah 7 Kebiasaan Orang yang Sangat Efektif (Stephen R. Covey). Salah satu kebiasaan itu adalah "Memulai dengan Akhir Dalam Pikiran."

Betul, kalau kita mengerjakan sesuatu tidak dimulai dengan akhir dalam pikiran, tujuan akhir dari proyek yang sedang kita kerjakan, hampir mustahil kita bisa mengetahui apakah kita bergerak maju atau mundur.

Saya ingin pekarangan saya bersih, dan saya tidak punya waktu untuk sering-sering menyiangi rumput. Itu akhir dari proyek saya terkait dengan pekarangan rumah. Untuk itu, saya tidak boleh membabat, tapi mesti mencabut sampai akarnya. Membabat hanya menyelesaikan masalah sejenak. Dua tiga hari, rumput itu akan tumbuh lagi.

Dalam kehidupan sehari-hari, adakah kita sudah bisa merumuskan akhir dalam pikiran, sebelum mulai bekerja? Sebagai muslim, apakah the big final goal yang ingin kita raih dalam menjalani keseluruhan hari, minggu, bulan, tahun, kehidupan kita? Adakah tujuan akhir itu selalu terpatri dalam hati, sehingga kita bisa memastikan, setiap langkah kehidupan yang dijalani semakin mendekati tujuan itu, atau malah semakin menjauh?Description: Mencabut Rumput Rating: 4.5 Reviewer: seputarwisata.com - ItemReviewed: Mencabut Rumput


Shares News - 08.51
Read More Add your Comment 0 komentar


Masjid Itu Masih Sepi



Apalah artinya seorang pemuda yang sering disebut Karmat, sebagai penterjemah bahasa Arab ke bahasa Indonesia pada sebuah penerbitan yang tidak terkenal adalah mata pencaharian sehariannya. Nama lengkapnya adalah Karmat Sudra Marga Mahesa, yang suka marah kalau dipanggil Sudra karena dianggapnya terlalu menyalahi komitmen kemerdekaan Amerika yang sering didengungkan seorang prajurit Perancis oleh Lafayetee: Liberte, Egalite, Fraternite. Atau orang modern bilang, itu sangat menyalahi Hak Asasi Manusia karena kasta sudah terhapuskan.

Apalah artinya sebuah nama bila mendadak Dramawan Agung dari zaman Pertengahan, Shakespeare disangkal oleh umpatan Karmat, ketika salah seorang kawan memanggilnya dengan Mahesa.

“Edan!” makinya, meski ia punya nama mahesa bukan berarti ia seperti kebo. Ia pernah menusuk lambung Janer (tetangganya) dengan pisau dapur tatkala meledek dirinya dengan nama Dr. Guyup Mahesa, alias Doktor kumpul kebo, sehingga pledoi yang dikemukakan saat persidangan kepada sang Hakim sebanyak tiga ratus halaman selalu berkisar penerjemahan kalimat: La tahtaqir Man dunaka falikulli syai’in maziyah.

“Orang itu gila, masa aku dipanggil Doktor Guyup Mahesa, emangnya penghalusan kata bahasa Indonesia itu sudah tidak cukup puas menjajah etika, politik, ekonomi dan lain-lain..., itu penjajahan dan jelas diharamkan oleh preambule. Itu lihat pelacur dijajah oleh penghalusan kata dengan Wanita Tuna Susila, sekarang dihaluskan lagi dengan Pramuselangkangan, wah..., wah..., aku kena getahnya...” protesnya dalam wawancara sama wartawan “Pos Kotak” saat ia berjalan diapit petugas menuju mobil tahanan.

Sedari kecil Karmat memang jadi bahan ledekan kawan-kawanya, hingga selama hidupnya jadi rendah diri dan bergelut dengan watak pendendam, tertutup, dan pendiam. Padahal orangnya cerdas dan selalu ranking satu dalam sekolah, pintar berbagai bahasa, seperti ‘percakapan burung-burung’ yang telah dinashkan dalam Al-Qur’an. Bahasa Arab adalah bahasa kebanggaannya karena ia yakin bahwa bahasa Arab adalah bahasa Sorga, selain demikian ia suka dihampiri para Turis dari Perancis untuk konsultasi berbagai pengetahuan wisata. Pergaulannya luas karena bahasa, bukan karena watak inferior yang dimilikinya.

Klaim masyarakat terkadang sadis, dan membentuk kepribadian, sehingga ia tidak mau keluar rumah, kecuali apabila dinas ke kantor, ataupun ke masjid. Orang-orang yang ingin memanfaatkan dirinya harus datang ke rumah, itupun harus diketahui, siapa dulu orangnya, kalau orang sekampungnya, siapa namanya. Ia sangat antipati dengan tetangganya yang bernama, Jagal, Lahap, Sopiyan, Abdullah Ngubai yang namanya mirip musuh-musuh nabi.

“Oalah... Ya Gusti, kenapa orang-orang itu ada di dunia. Laknatullah, laknatullah...” Karmat mengeluh di tengah-tengah malam tatkala rembulan redup penuhi hati. Tangisnya meledak melihat pacoban hidup yang memenuhi agenda hariannya.

***

Tepat pada hari Ahad, Karmat bebas. Tanpa sanak saudara ia pulang sendirian. Para tetangga menyambutnya dengan memalingkan muka. Hal itu sudah tidak lagi masuk dalam perbendaharaan perasaan. Anggap saja suatu yang terbaik.

“Lho..., mas Karmat sudah pulang to...,” sapa bu Makita sinis,

“Kata bapak kalau orang pulang dari penjara namanya residivis ya...”

Gelegar! Emosi Karmat tiba-tiba pecah, tapi ia hanya bisa menampakkan dengan merah padam mukanya dan senyum kecut sambil lalu. Badannya terhuyung-huyung menahan amarah. Dengan cepat-cepat ia hampiri pintu rumah kontrakannya, lekas ia buka untuk mencari botol- botol yang tidak terpakai lagi sebagai kompensasi dari kemarahan yang terpendam.

“Prang!” suara botol kosong membentur tembok belakang rumah.

Dengan nafas ngos-ngosan ia lempar lagi botol-botol yang lain, sampai reda dan lemas. Ia bersandar di dinding sambil melihat tumpukan botol-botol yang ia persiapkan untuk mencairkan emosi-emosi. Keesokan hari ia mencoba ke kantor penerbitan tempat dulu ia bekerja, menghadap direktur dan melaporkan bahwa ia akan kembali bekerja seperti biasa. Dengan hati-hati Karmat mulai merangkai kalimat agar Direktur yang selalu pasang angker itu bisa tersenyum dan lebih-lebih mau menerima kembali.

“Kau Karmat, Kapan Kau bebas” Ujar Pak Sitompul sambil menempuk bahunya.

“Kemaren Pak”

“Kau mau kerja lagi di sini?”

“E..e..., Iya Pak”

“Bagus, sekarang juga kau bersihkan tempatmu yang dulu. Tengok itu, kotor sekali sampai bau apek”.

Tanpa sadar Karmat tiba-tiba memeluk Pak Sitompul dan menangis terharu,

“Aduh, bagaimana caranya saya bilang terimakasih sama bapak, bagaimana, pak...”

“Sudahlah kau Karmat, serahkan saja kapada yang Kuasa, nasib itu ada di tanganNya, yang penting kau kerja di sini".

“Terimakasih pak, saya insya Allah, akan bekerja sebaik-baiknya”

“Iya..., ya..., aku percaya, selama ini kau memang kerja baik, tanpa kau bilang aku yakin kau kerja baik-baik”.

***

Sekarang Karmat sudah resmi dinas di Penerbitan itu, setiap harinya bertumpuk-tumpuk makalah-makalah Bahasa Arab, ia terjemahkan, koran-koran, bahkan Lailat Az Zifaf, buku kegemaran Kiai Rozikin Ozi Aje, tak luput dari garapannya. Ia tak peduli lagi dengan julukan baru yang diberikan masyarakat dengan Resi Karmat singkatan dari Residivis. Ia sudah tuli dengan cemoohan, karena ia sudah bahagia dengan kesibukannya, selain itu hobi memecah botol sudah mulai berkurang.

Status penterjemah sudah cukup baginya, walau masyarakat lebih suka memanggilnya dengan Sang Resi. Siklus kegiatan antara rumah, kantor dan masjid cukup baginya untuk memenuhi seluruh kebutuhan hidup. Istirahat, kerja dan berdoa adalah kehidupan yang paling vital. Mau apa lagi, ceramah tidak bisa, ngajari ngaji bahasa Inggris sistim gandulan kayak ngaji kitab ‘Uqudulijain kala masih jadi santrinya mbah kiai Kasilan, tidak diterima masyarakat. Apa lagi? mendingan baca cerpen, sambil korek-korek kuping dengan bulu angsa di rumah, menerjemah di Kantor dan memperbanyak doa di masjid. Satu-satunya sahabat yang ada di kampungnya, adalah Marten, tukang Azan dan juru kunci Masjid An Najah, sebuah masjid yang terletak di tengah-tengah padatnya kampung Karmat. Masjid yang cukup besar, biasanya penuh setiap kali sholat Jum’at, namun sangat longgar setiap Isya’, Subuh, Dzuhur dan ‘Ashar. Kalau sholat Magrib mendingan, ada dua shaf jama’ah. Pada dasarnya suara Karmat merdu, jika mengumandangkan azan, tapi Marten biasanya sewot kalau Karmat suatu kali minta untuk azan.

“Ah..., nggak usahlah Mat..., aku takut Ustadz Mazdu’ marah-marah sama aku, aku takut dipecat” kata Marten, “Beliau bilang kalau beliau nggak kuat menggaji dua muazin”.

“Kau jangan prasangka begitu Mar..., aku ini ikhlas wal afiat lho, aku cuma pingin azan saja, nggak butuh duit”.

“Bukan begitu Mat, aku percaya kamu nggak butuh uang, tapi...”

“Ah..., nggak jadi..., aku nggak jadi kok, takut aku jadi riya’. Sudahlah aku sholat sunat dulu..., nanti kau saja yang azan”

“Sorry ya..., Mat, bukan aku nggak boleh, cuman itu...tu, ustaz yang pernah belajar di Mesir, bisanya cuman marahin melulu, habis itu kerjanya promosi ziarah kubur kanjeng Husein, atau ziarah ke tempatnya Imam Syafi’i, di setiap pengajian mingguan, emangnya kuat ziarah sampai Mesir”

“Ah...kamu itu nggunjing orang nggak boleh, lagian apa salahnya sih ngajak orang dalam kebaikan. Kamu itu ..., lihat orang senang nggak boleh, makanya kalau sekolah yang bener biar bisa bikin travel, nggak kayak kamu. Sudah azan dulu sana!”

Marten memang lugu, walaupun pernah jadi bintang film, yang pernah shooting sebagai figuran, Marten cukup bangga. Wajahnya seperti Roy Marten namun jika dilihat lekat-lekat wajahnya lebih condong mirip Presiden Nilson Mandella. Ia suka sekali dijuluki dengan Marten Mandella, karena Nilson Mandella itu orang hebat pernah dipenjara kayak Karmat. Makanya ia kagum juga sama Karmat dan pingin sekali Marten merasakan dipenjara, tapi ia takut sama Polisi. Kemarin ia mencoba maling ayam di peternakan milik orang cina, akan tetapi alangkah terkejutnya ketika diintip dari belakang ternyata ada Pak Guncil yang jadi Polisi Militer, ia sempat bingung, peternakan ayam ini milik Kopral Guncil atau milik Cik Wan. Akhirnya ia balik dengan tangan hampa.

Pada hari-hari menjelang PEMILU, memang banyak sekali penyelenggaraan demonstrasi, para buruh yang terkekang pada turun jalan, biasanya para mahasiswa yang suka sekali ngutak-atik kesenjangan, sangat rajin unjuk rasa. Kesempatan ini takkan lepas dari perhatian Marten, ia memang melihat kesenjangan tapi tidak bisa membuktikan. Ia mencari peluang untuk ikut unjuk rasa, setiap kali melihat selebaran ia ambil, kalau-kalau ada kabar tentang unjuk rasa.

“Kapan ya... ada demonstrasi...” batin Marten, sambil mencoba jaz dan dasi, dan kepalanya diikat kain yang bertuliskan “Hidupkan Demokrasi”.

Ia pandangi cermin lama-lama.

“Ah... sudah pantas...”

“Karmat..., Demokrasi itu apa sih, kok mahasiswa itu suka teriak : ‘Demokrasi!, Demokrasi, sambil mengepal-ngepalkan tanngannya?” tanya Marten seusai shalat Isya’.

“Menurut cerita yang sering aku pelajari di kampus, Demokrasi itu banyak macamnya, ada demokrasi liberal, demokrasi Terpimpin, demokrasi pancasila, demokrasi Islam, pokoknya banyak. Ya.. berhubung aku jarang masuk kuliah, aku nggak tahu, setahuku dosen yang paling baik adalah Pak Sitompul, direkturku itu."

Mendadak Karmat seperti dapat ilham, “Oh..., begini kalau nggak salah kata Sitompul, demokrasi itu negara terserah rakyat, tapi kalau demokrasi menurut kenyataannya itu negara terserah penguasa,... katanya....itu yang dia lihat lho Mar bukan aku, betul ini”.

“Hus...jangan keras-keras, nanti kamu ditangkap lho, ini menjelang PEMILU, biar aku saja yang bilang nanti, pas kalau ada demonstrasi”

“Ah... terserah... aku nggak mau ikut-ikut, yang penting aku selamet, aku nggak mau neko-neko, kayak nggak tahu aku saja, orang-orang sudah kadung membenciku”

“Termasuk aku?”

“Ah...entahlah...,” Karmat menunduk sendu.

“Lho..., kamu jangan begitu, aku nggak pernah benci sama siapa-siapa, apalagi sama kamu, aku malah sebaliknya, kagum sama kamu, kamu itu pemberani sampai-sampai mau dipenjara, aku pingin lho kayak kamu”.

“Eh! kenapa sih sekarang kamu suka tanya demonstrasi”

“Enggak...ah..., aku...aku... aku pingin kayak Mandella”

“O...oo...” Karmat mengambil sandal dan bergegas pulang ke rumah.

********

“Hidupkan Demokrasi!, Hidup-kan Demokrasi!,” teriak Marten di tengah-tengah lautan para pengunjuk rasa, yel-yel keadilan seperti koor perjuangan, keadilan seperti lautan yang luas dan sukar untuk diterjemahkan.

“Bersihkan korupsi, bersihkan kolusi, hilangkan nepotisme” teriak Marten menirukan orang- orang yang lagi kalap. Lalu ia ikut naik mimbar dan mengambil corong.

“Nyanyi...!,nyanyi...!, suarakan kebenaran...!” teriak massa. Marten tersadar bahwa ia sekarang di gelombang massa, ia nggak tahu apa yang harus diperbuat di saat corong di genggamannya.

“Nyanyi...! Serukan keadilan!”

Keringat Marten bercucuran, apa yang harus diperbuat.

“Eh..., cepat nyanyi atau baca puisi!” bisik seseorang ada disampingnya. Tanpa sadar Marten menyanyikan lagu kesukaannya pada waktu TK:

“Bebek, bebekku, mari kemari, ikutlah aku ke kebun bibi....”

“Hu.....huu..., lari....lari ... ada polisi...lari..., bubar..., ada tentara...., pakai panser,” seru massa.

Semuanya lari tunggang-langgang diantara mereka ada yang selamat, sebagian mereka ada yang apes, sebab kena pentungan petugas, dan digiring ke Posko Kewaspadaan Nasional. Sesampai di Posko mereka mulai diperiksa satu-satu, ada yang dipukuli, ada yang disuruh ngaku, ada yang teriak menangis, ada yang lantang, ada yang diseret di penjara.

Tubuh Marten menggigil ketakutan. Matanya melirik-lirik ingin tahu bentuk penjara, tapi...keringat dingin menguasai rasa ketakutannya. Marten, antara mau cari pengalaman dan juga mau pingsan.

“Hei, siapa namamu?” Tanya polisi.

“M...m...mm...Marten Pak”

“Kuliah di mana...?”

“S..ss..ss..Saya tukang azan, itu pak... di..ddddi Mesjid An Najah...pak..., Pengajiannya.... Ustadz Mazdu’, pak...., benar pak...sssumpah pak, saya nggak salah, saya cuman disuruh nyanyi...., saya nggak tahu...., jangan dipukul pak...ssssakit...”

“Lho! kamu anak buahnya Mas Mazdu’?, kenapa kamu ikut-ikutan demonstrasi, sana pulang sana, memalukan, jangan bilang-bilang kalau kamu saya pulangkan, dan jangan sekali-kali diulangi lagi ikut-ikutan demonstrasi, biar orang gendeng saja yang teriak-teriak” kata seorang anggota ABRI yang ternyata saudaranya ustadz Mazdu’.

“Lho kok pulang..., sssaya pingin dipenjara Pak”

“Kamu itu ada-ada saja, sana pulang, sudah saat waktu ‘Ashar, nanti telat azannya”

“I..iya..., tapi...nanti...balik lagi nggak pak?”

“Oo...nih sedikit buat ongkos naik bis kota, sana pulang nggak usah balik lagi”

“M..mmm...makasih Pak”

***

Sudah seperti biasanya, Karmat beranjak ke mesjid. Dengan memakai peci dan sarung, ia mulai mendendangkan zikir, seirama dengan langkahnya.

“Mat..., tolong kamu saja yang azan, saya pulang dulu” sapa Marten di tengah jalan sambil terengah-engah.

“Dari mana kamu Mar...,”

“Nih kuncinya”

“Lha iya..., masjid kok ya... dikunci..., orang mau ke rumah Tuhan kok dikunci, seharusnya dibuka 24 jam. Aku jadi sedih. Coba bayangkan kalau orang mau sholat malam, masa dikunci. Sini kuncinya! Nggak usah dikancing pintu masjid itu. Biar aku buka saja".

“Ya terserah, asal jangan ketahuan Ustadz Mazdu”.

“Boleh..., boleh...., tapi...” Marten berlalu.

Sembari bertanya-tanya dalam hati, Karmat masuk ke Mesjid, ia kumandangkan azan dengan suara merdu, menggantikan kebiasaan Marten. Ia nggak tahu kenapa Marten tiba-tiba berubah, dulu ngotot megang kuncinya sekarang malah dikasihkan.

“Ah..., biarlah..., itu urusan orang lain” batin Karmat, sambil meneruskan wirid shalawat Nariyahnya. Kini Karmat jadi lebih leluasa ke Mesjid, berlama-lama i’tikaf sambil mendengung kecil wirid-wirid. Bila malam-malam tanpa harus mencari Marten, ia bisa buka pintu sendiri, bahkan ia nggak mau lagi mengunci pintu mesjid itu.

“Masa masjid kok dikunci, wah..., bener-bener pergeseran nilai. Gimana nanti bila ada yang pingin sholat, atau i’tikaf, atau istirahat atau kegiatan yang lain susah...., mengamalkan hadits nabi ‘Rojulun qalbuhu mu'allaqun bil Masjid’ susah..., jadi orang modern susah. Masjid dibangun besar-besar, yang shalat cuman dua tiga orang, emangnya masjid itu kayak gereja yang hanya dikunjungi setiap minggu sekali, dasar "kristenisasi budaya...” omel Karmat dalam hati sambil memandangi masjid sejenak lalu ia tinggalkan untuk istirahat di rumah menunggu subuh.

Matahari pagi menyengat, membuat Karmat gelagapan. Dilihat jam sudah menunjukkan jam enam seperempat.

“Ya...Allah! kenapa aku bangun terlambat”, sesegera mungkin ia mengambil wudlu, tak lupa meraih peci dan menggelar sajadah. Ia menunaikan shalat Subuh di rumah. Seribu penyesalan ia tangisi dengan doa, seribu kekecewaan ia tumpahkan dengan air mata.

“Ya...Allah! kenapa aku laksana terbius seperti ini hingga aku tak tahu lagi ganjaran apa yang akan kuperoleh... Oh Tuhan, my God, Ya Allah... ampuni hambaMu, aku bagai Abu Nawas yang sama sekali tak kuat dengan gelombang siksa neraka, dan kelemahanku inilah yang menjadikan tak patut masuk ke gerbang istana firdaus-Mu. Oh Tuhan, benar... dengan tulus aku mohon ampunan, dosa-dosaku penaka hamburan debu yang terbang hinggapi nafsu... Tuhan... meledak tangisku... membuat kebodohanku muncul..., tiada lagi yang mampu melindungi alam semesta kecuali diriMu".

“Karmat!!!”

“Ya Allah..., kekasihku..., kurajuk diriMu untuk penuhi ampunanku”

“Resi Karmat!!!”

“Ya... Rabbi...dengan keadilanMu, terimalah taubatku”

“Hai...!!! Karmat keluar kau...”

“Ya...Rahman...Ya Rahim..., KasihMu tak terhingga, tujuh samudra... takkan bisa menandingi limpahan sayangMu, hambaMu mohon maaf...”

“Prak...” suara pintu didobrak dan orang-orang mulai masuk ke rumah.

“Ya...Hayyu.. Ya Qayum..., kurayu asma-Mu, agar bisa tentramkan hatiku, diriku hancur kala aku lengah dengan janji-Mu. Masjid itu kayak gereja yang hanya dikunjungi setiap seminggu sekali....."

“Ini malingnya...., ayo kita pukulin..."

Pura-pura berdoa lagi “Ya...Allah telah datang bala-ganjaranMu”

“Bug...!!!, bug...!!!, plak....!!!”

“Alhamdulillah, ternyata Kau dengar suara hambaMu, karena aku lebih takut dengan siksa JahimMu”

“Ayo..., Resi...!, Ayo...Sudra!, ngaku..., mana tape recorder..., mana pengeras suara..., kau sembunyikan di mana kotak amal. Jangan pura-pura diam..., ayo.., hei maling..., mana...” teriak orang-orang sambil menggebuki Karmat.

“Seret dia!! Bawa ke kantor Polisi....”

“Pukuli dulu..., sampai setengah mampus”

“Iya. Pukuli baru serahkan ke Polisi”

“Ya...Allah....” desis Karmat.

“Dia tetap diam..., nggak mau ngaku, kasih bogem dulu...”

“Ya...Allah...Allah..., Ahad..., Ahad...., Ahad....”

Karmat mendesis sambil membayangkan Bilal disiksa oleh Umayah, kesadarannya telah hilang, darah segar mengalir membanjiri seluruh tubuhnya, namun ia seperti terhibur dengan senandung dzikir itu, sampai tidak tahu di mana ia berada....

***

“Karmat..., maafkan Aku...”, seru Marten sembil melelehkan air mata,

“aku menyesal..., dan nggak menyangka sampai dipukuli sekejam itu. Aku kira jalan itu yang dapat mengantar aku ke penjara, tapi aku takut dipukuli hingga aku bilang yang nyolong adalah kamu, lalu mereka melabrak rumahmu, mereka pukuli kamu, dan barang-barang seisi rumahmu”.

“Yang salah aku Marten. Aku telat shalat Subuh” elak Karmat dari balik jeruji.

“Uh… uk.... Bukan, itu salahku... kenapa aku penakut..., walau ingin rasanya aku seperti Mandella yang pernah merasakan penjara, seperti kamu Karmat. Kata orang penjara itu untuk mukmin dan sorga bagi orang kafir” dalih Marten tambah sesenggukan.

“Hus! Emangnya orang yang beriman suka dipenjara..., bagaimana bisa maju, Marten, bagaimana bisa kerja, bagaimana bisa haji...?”

“Tapi orang hebat belajarnya di penjara!”

“Itu Soekarno, Hatta, Mandella..., dipenjara bukan karena nyolong pengeras suara mesjid..”

“Oh..., maafkan aku Karmat...aku nggak tahu, aku mau ngaku biar dipenjara..., disana aku bisa belajar, dan kamu bisa pulang..., aku ingin pinter seperti Mandella. Ya...Marten Mandella...Karmat..., maafkan aku... Karmat”

“Yah..., pingin sekolah gratis..., nyari penjara..., eh..kadang-kadang penjara bisa menelurkan alumnus yang besar dan hebat...” Karmat sejenak menengok kantor Polisi, tak sadar ia geleng-gelengkan kepala melihat gigihnya usaha dan luhurnya cita-cita Marten. Ia tinggalkan penjara setelah tak terbukti kesalahannya, Ia tinggalkan Marten yang kini meringkuk di penjara sesuai dengan pengakuanya.

“Semoga kau cepat pandai dan berani, Marten...!”

***

Malam-malam Karmat mulai bertandang ke Masjid, dingin menyelimuti tubuhnya, sepi..., tak ada orang..., dan Masjid itu terkunci..., tak ada lagi yang ia cari..., Marten yang dulunya setia membukakan pintu kini tak tampak lagi. Ya! masjid itu terkunci, di malam-malam sunyi..... Masjid itu tak akan berfungsi......

(Madinatul Buuts, with Bensarkoun 'n Didik "Karmat" Hariri).

[1] Mutiara hikmah: Jangan menghina orang lain, sebab segala sesuatu mempunyai kelebihan

[2] Orang yang hatinya tergantung di masjid.Description: Masjid Itu Masih Sepi Rating: 4.5 Reviewer: seputarwisata.com - ItemReviewed: Masjid Itu Masih Sepi


Shares News - 08.40
Read More Add your Comment 0 komentar


berapa Lama Kita Dikubur??



Awan sedikit mendung, ketika kaki kaki kecil Yani berlari-lari gembira di atas jalanan Menyeberangi kawasan lampu merah Karet. Baju merahnya yang kebesaran melambai lambai di tiup angin. Tangan kanannya memegang es krim sambil sesekali mengangkatnya ke mulutnya untuk dicicipi, sementara tangan kirinya mencengkram ikatan sabuk celana ayahnya.


Yani dan ayahnya memasuki wilayah pemakaman umum Karet, berputar sejenak keDescription: berapa Lama Kita Dikubur?? Rating: 4.5 Reviewer: seputarwisata.com - ItemReviewed: berapa Lama Kita Dikubur??


Shares News - 08.38
Read More Add your Comment 0 komentar


Impian Sederhana



Mak Sum, veteran wanita zaman VOC, Usianya hampir menyentuh 85 tahun. Lengkung punggungnya adalah sunnatullah ketuaan yang tak terelakkan. Sumirah nama lengkapnya, meski lerlanjur lansia sirat kecantikannya tetap ada --dan karena cantik dia sempat menjadi selir inlander dan di Batavia orang-orang menyebutnya Lonte Belande. Dan kini, nasib mendamparkannya di sebuah Bedeng di kota Kembang sebagai penjual nasi uduk setiap pagi.

Untuk usia seudzur beliau, geraknya terkategori gesit. Aku mulai mengenalnya setahun lalu, saat aku menjadikan komunitas Bedeng ini sebagai bahan penelitianku. Ya Bedeng, begitulah daerah ini disebut. sebuah daerah kumuh yang komunitasnya heterogen secara asal-usul dan pekerjaan tapi homogen dalam srata "kelas akar rumput". Aku dan Mak Sum benar-benar merasa satu hati saat saling mengetahui berasal dari daerah yang sama, Wates, sebuah daerah cantik di Jogja sana. Impiannya adalah bisa pulang kembali ke Wates. Nanti, jika aku pulang dia akan ikut denganku karena segan pergi sendirian. Dibalik sikap sumringahnya tak jarang kulihat sirat kesepian dan kerinduan yang terpatahkan oleh nasib. Hidup sendiri tanpa anak dan sanak keluarga didukung oleh kemiskinan adalah aroma yang kerap menyesakkan dadanya,

"Andai saja Mak punya anak..." Gumamnya, saat musim mudik menjelang --Aku jadi merasa berdosa karena lebaran ini aku tak pulang-- hingga Mak Sum pun harus menunda kepulangannya juga sampai lebaran tahun depan.

***

Menjadi guru sukwan di Bedeng ini hanyalah cara agar aku bisa lebih dekat dengan mereka. Aku mengajari anak-anak dan kaum buta huruf membaca dan mengaji setiap sore. Dan ternyata, semakin aku mengenal mereka aku semakin khawatir pada ketidaktahuan yang mayoritas tentang bertauhid kepada Allah. Atau tentang shaum yang gegap gempitanya hanya tampak di akhir Ramadhan saja. Karena bagi mereka, malam takbiran berarti panen uang zakat. Pada dasarnya mereka mulai bisa menerima keberadaanku, tapi hanya terbatas pada penggabungan huruf-huruf dari A sampai Z atau mencoba merangkai hijaiyah dari Alif hingga Ya. Sindiran pedas akan segera singgah di telingaku jika aku berbicara tentang indahnya hidup beragama atau menyempurnakan ibadah kepada Allah. Dan pernah aku merasa kebingungan dan tersudut diruang putus asa karena itu semua.

"Nak Dyah jangan putus asa!" Hibur Mak Sum saat aku mengeluh padanya. "Orang-orang disini memang kurang pandai bermasyarakat, jadi kalau ngomong asal celetuk aja!" imbuhnya lagi dan aku hanya menanggapinya dengan senyum terpaksa. "Maklumlah, orang-orangnya tidak berpendidikan! Tidak seperti Nak Dyah" tandasnya lagi.

Berpendidikan! Sekejap aku lupa jika ini adalah medah piiihan yang kudefinisikan dengan arti sejati kebahagiaan, berbagi dengan sesama dalam kesederhanaan. Dalam sekejap aku membenarkan kata-kata Riu jika aku terlalu berani mengambil resiko sebuah jalan hidup, Aku terlalu berani untuk berdiri diatas sebuah idealisme yang baginya hanyalah Utopia dan bahkan artificial. Saat itu aku hanya menjawabnya dalam hati, aku dan Riu hanya beda posisi saja, aku tahu mengapa aku harus berani dan dia tidak. Aku punya alasan untuk mengaplikasikan idealisme dan bukan menganggapnya sebagai utopia atau sesuatu yang artificial. Riu bilang, idealismeku sesuram atmosfir sosial negeri ini. Dan kini idealisme itu sedang mengujiku, benarkah aku akan terus memegangnya sebagai sesuatu yang harus diaplikasikan.

Hujan masih begitu deras menghentak genting-genting gang kecil ini. Sesekali kudengar suara gelegar, dari balik jendela kulihat kabut-kabut dingin mulai menebal. Menjadikan hari yang beranjak malam semakin kelabu. Riuh daun-daun beradu dengan pentalan bebatuan es yang menari di lantai porselen.

"Dyah, Dyah! Ada yang cari tuh. Katanya Mak Sum sakit!" aku meloncat dari kursi plastikku mendengar nama Mak Sum disebut. Diluar kulihat tiga abang becak yang sudah menjadi kawan akrabku sedang berdiri pucat dan menggigil kedinginan.

"Mak Sum, Neng! Badannya panas dari tadi ngigau terus'" aku tahu pasti jika di Bedeng tak ada dokter atau mantri, sementara untuk ke rumah sakit jaraknya cukup jauh dan lagi aku tak punya uang lebih sejak tabunganku harus masuk meja registrasi. Terpaksa...

"Inu, Inuyasha! Tolong aku Nu!" teriakku memukul keras pintu kamar Inuyasha.
"Apaan nih?" tanya Inu yang hanya menyembulkan kepalanya gelagapan.
"Mak Sum sakit Nu, ayo tolong dia!"
"Aku belum jadi dokter neng, baru calon!" kilahnya.
"Ayo Nu, cepet" paksaku menarik lengannya "Iya...iya bentar!"

***

Aku dan Inu berjalan memasuki komunitas Bedeng yang pengap. Hingga kami harus meuntasi jalan becek selebar setengah meter. Tak lama kami menurun tangga berbatu yang dikanan kirinya bertumpukan kaleng-kaleng bekas. Kaus kakiku hitam sudah, rasa gatal mulai menjalari sela jemari kakiku. Tiba-tiba, kami mendengar suara ribut tak jauh dari situ...

"Mak Sum hanyut, Mak Sum hanyut di kali!!!" begitu bunyi suara bergemuruh itu.
"Apa! Mak Sum hanyut? Bukannya dia sakit" Tegasku pada orang-orang itu
"lya dia memang sakit dan sekarang hanyut"
"Orang sakit kenapa dibiarkan keluar, kan jadinya jatuh!"
"Mak Sum hanyut sama rumahnya neng bukan karena jatuh"
"Apa?"

Aku melihat bagian dinding rumah Mak Sum yang masih tersisa. Sambungan triplek usang yang ditambal lempengan-lempengan kaleng bekas. Rumah itu tepat di hulu kali seluas dua setengah meter. Gelodak arusnya menenggelamkan apa saja yang sanggup diseretnya seperti juga tubuh sakit Mak Sum.

Lidahku kelu, urat syarafku rasanya putus semua, Dikelopak mataku bergayut sesuatu yang semakin menghangat bendungannya. Titik hujan samaikan airmata yang mengalir di ruas tirus pipiku. Dikepalaku kini bermain siluet tubuh renta yang timbul tenggelam dipermainkan arus air juga sebuah impian sederhana untuk pulang ke Wates bersama-sama.Description: Impian Sederhana Rating: 4.5 Reviewer: seputarwisata.com - ItemReviewed: Impian Sederhana


Shares News - 08.34
Read More Add your Comment 0 komentar


Menipisnya Ibadahku



Assalamu'alaikum kamarku tersayang. Kembali aku pulang ke tempat kos ini seperti biasa, capek sekali seharian ini aku bekerja, jam 8.00 pagi sampai jam 5 sore. Kapan aktifitas ini akan berubah.

"Ya Allah, capeknya aku hari ini." Kasur empuk itu menggoda sekali, tapi aku harus mandi dan shalat Maghrib.
"Ada BAJAJ BAJURI, lihat TV dulu ah..." Aku pun nonton serial TV yang paling banyak ditonton ini.
"Masya Allah sudah jam 7 kurang seperempat, aku mau mandi ah..."

Aku pergi mandi dan shalat Maghrib jam 7, nggak lama aku dengar suara Adzan Isya', "Ya... Allah pinginnya hati ini berdzikir, tapi males sekali meski di mukena ini sangat enak sekali rasanya seperti Engkau memeluk aku. Tapi setan kamar ini kuat sekali, coba kamu jangan ganggu aku dulu setan. Sudahlah aku baca novel aja dulu sambil nonton TV... Shalat Isya'-nya entar aja.

KUBAH... Sebuah novel yang dipinjami teman sekantor dan sudah seminggu ini aku baca tapi nggak kunjung selesai, berharap malam ini bisa aku selesaikan.

Enaknya berbaring begini badanku rasanya remuk semua, aku sudah nggak tau lagi kapan terakhir aku mengingat Allah tepat waktu, enteng sekali sekarang aku meninggalkan waktu shalat, sejak aku putus sama pacarku, dan dia sekarang sudah menikah dengan orang lain. Atau kapan ya Sekarang ini aku benar-benar sedang tersesat.

"Ya Allah, sayangnya Engkau padaku, sehingga Engkau jauhkan dia dariku, indahnya anugerah kasih sayang cinta ini. Engkau berikan sampai Engkau menjodohkan dia dengan orang lain. Apakah akan bahagia seandainya aku yang berada di sisinya menjadi istrinya. Aku hanya bisa berdo'a semoga semua ini memang yang terbaik untuk kami berdua, semoga istrinya sekarang mencintai dan menyayangi dia sebesar rasa sayang cinta yang Engkau bersitkan di hatiku untuknya.

Ya Allah, lelahnya badan ini, hati ini untuk meniti hidup ini sendiri terus. Kapan Engkau akan memberi aku kepercayaan untuk menjadi istri yang shalehah, berbakti kepada suami yang menyayangi aku, keluarga, dan semua orang disekelilingku. Kapan mimpi itu akan menjadi suatu kenyataan."

Novel ini bikin ngantuk mataku, di TV semua acaranya pada sinetron sih. Sekarang orang-orang TV nggak ada yang kreatif membuat acara TV.

Jam 9.00 malam, cepet banget jam itu berputar, aku belum shalat Isya', nggak apa-apa lah nanti aja shalatnya, lebih baik sekarang aku pejamin mata dulu aja. "Bismillahirahmanirrahim. Bismika Allahumma ahya waa bismika 'amut... Ya Allah, aku titipkan jiwa ragaku pada saat aku tidur, berikanlah aku mimpi baik, jauhkanlah dari mimpi buruk, bangunkanlah aku nanti jam 1 karena aku masih punya kewajiban shalat Isya' sekaligus Tahajjud...".

***

Aduh wekerku bunyi pasti sudah jam 1, tapi masih jauh dari pagi, lima menit lagi deh aku tidur mungkin akan hilangkan kantukku. Ya Allah, jauhkanlah setan tidur ini dari tempat tidur ini dan mata ini. Aku ini yang setan atau memang ada setan di kamar ini. Kenapa berat sekali sekarang aku bangun malem.

Jam 2.30 sudah. Aku bangun dan bergegas ke kamar mandi ambil air wudhu', aku belum shalat Isya'nih. Idih... malesnya dzikir apalagi shalat tahajjud. TV itu kayaknya minta ditonton. Ya sudahlah, aku ada makanan nggak ya di kulkas? Besok aku mau puasa deh, mencoba dari awal menahan hawa nafsu lagi.

Aku yakin ini adalah cobaan dari Allah. Sebulan ini nggak ada yang aku lakukan kecuali kerja, pulang ke kos, nonton TV, menunda shalat tepat waktu, meninggalkan Tahajjud dan Dhuha. Kemana rutin ibadahku aku juga nggak tau. Tiba-tiba sekarang baru sadar rutinitasku telah berubah, cobaan yang ini begitu berat, sulit sekali mengembalikan ibadah rutinku. Dalam do'a aku selalu memohon untuk ditetapkan iman, ihsan, dan Islam. Tapi sekarang aku berada diantara kesesatan.

"Kenapa ya Allah? Apa yang tersembunyi dibawah alam sadarku. Hamba sadar semua ibadah menjadi sia-sia kalau hamba seperti ini terus. Tapi setan di kamar ini begitu kuatnya. Tolong ya Allah, tolong hamba ini. Tipis sekali ibadahku dalam satu bulan ini. Kembalikanlah kembali kepadaku. Kembalikan shalatku, puasaku, amalku, kembalikan padaku. Golongkanlah aku ke dalam golongan orang-orang shaleh dan shalehah yang Engkau ridho'i."

Adzan Shubuh membuyarkan semuanya. Aku harus mandi, shalat dan pergi ke kantor. Aktifitas pagi yang satu ini alhamdulillah belum berubah.

Do'aku tentang kemalasan dan kesesatan di alam setan akan terhapus hari ini. Mundurnya ibadahku, tipisnya ibadahku akan berakhir hari ini. Aku akan memulai pagi ini dengan shalat shubuh tepat waktu, kembali ber-Dhuha dan bekerja untuk beribadah. Dan akan menjalankan rutinitasku sebagai muslimah dengan istiqomah. Semoga setan keluar dari kamar ini, rumah kos ini, dan paling penting dari dalam diri dan hati ini.Description: Menipisnya Ibadahku Rating: 4.5 Reviewer: seputarwisata.com - ItemReviewed: Menipisnya Ibadahku


Shares News - 08.28
Read More Add your Comment 0 komentar


Mencari Istri Sempurna



Hamba mencari istri sempurna. Lelah hati dan jiwa. Hamba mencari kemana-mana, alhasil hamba tak sanggup temukan belahan jiwa itu. Setiap hari hamba berdoa, namun belum juga terkabul. Mungkin inilah perjuangan. Lama-lama hamba mulai menikmati kehidupan ini. Walaupun jemu pernah hinggap dalam kamus kehidupan hamba, meraung-raung dalam sunyi.

Sungguh, di dunia yang maya ini, hamba mencoba menghindar dari gundukan dosa, namun laron-laron dosa itu sesekali berduyun mendekati hamba. Sekuat ruh hamba berlari-berlari menuju cahaya, dan konon, salah satu kendaraan untuk mendekatkan diri dengan cahaya itu adalah mendapatkan seorang istri. Ya, hamba mencari istri sempurna, agar hamba bisa menyempurnakan niat hamba, bercengkrama dengan cahaya sejati.

Hamba bergelut dengan hari-hari, mencari secercah cahaya untuk bisa hamba huni dari kegelapan yang semakin gandrung menyelimuti hati hamba lagi. Hamba akui di setiap arah jam yang bergulir ada terpendam berjuta rahasia yang tak bisa hamba singkap keberadaannya, tak mampu hamba kuliti satu persatu apa gerangan yang diinginkan Allah. Tadinya hamba berpikir bahwa hamba telah mampu meredam satu niatan hamba itu, mengubur riak-riak kehidupan yang hamba bangun dengan pondasi rapuh. Rupanya detak suara jarum jam semakin besar menghentak-hentak dan memekakan telinga hamba, lalu hamba kembali terpuruk, pikiran hamba terhuyung-huyung melangkahkan kaki tak tentu arah.

Suatu hari, hamba bertemu dengan mawar. Di taman itu ia hidup sendiri. Warnanya yang merah merekah membuat mata terkagum-kagum. Ingin rasanya hamba mempersuntingnya, memetik segala hasrat yang mulai basah kuyup dengan segala keinginan.

Sang mawar tak sadar bahwa ada yang mengamatinya. Ya Tuhan harum sekali. Ya, ketika pagi merambat, hamba merasakan keharuman yang luar biasa. Merambat ke seluruh ubun-ubun, keharuman yang menakjubkan. Hamba memberanikan diri untuk menyapanya.

"Selamat pagi, Mawar." Mawar tersenyum, senyum yang menyejukkan.

"Selamat pagi. Ada apakah gerangan, sehingga pagi-pagi begini anda bertamu ke taman yang sepi ini?"

"Hamba berniat mencari istri yang sempurna. Setiap hari tanpa sepengetahuan anda, hamba mengamati anda, lalu tumbuhlah sejumput rasa tertentu yang tak bisa terdefinisi. Anda telah menyampaikan keharuman itu lewat wewangian yang disampaikan angin. Hamba pikir andalah yang hamba cari, belahan jiwa yang sekian lama memikat hamba untuk hidup dalam kembara."

"Betulkah aku yang anda cari? Tak malukah anda menikah dengan bunga sederhana sepertiku? Apa yang membuat anda terkagum? Tak banyak yang bisa aku berikan untuk anda."

"Mawar, sudah lama hamba mencari istri yang sempurna. Mungkin inilah harapan terakhir. Melihat warnamu yang memerah, hamba terkesima. Jika anda mengizinkan, hamba ingin melamar anda. Mari kita arungi bahtera hidup ini."

"Kalau betul itu yang anda inginkan, baiklah. Tunggu barang satu minggu, setelah itu jenguklah aku kembali."

"Terimakasih mawar. Ternyata hamba tak salah pilih. Seminggu lagi hamba akan kesini."

Hamba lantas meninggalkannya sendiri di taman itu. Hamba pergi diiringi senyum yang dramatis. Hati hamba seketika terbang ke langit. Sebentar lagi penantian hamba berakhir, hamba akan mendapatkan istri yang sempurna.

Seminggu berlalu, hamba mendatangi taman itu. Langkah kaki bersijingkat dengan sempurna, cepat dan gemulai. Ketika hamba tiba di tempat itu, tiba-tiba hati hamba melepuh, berterbanganlah harapan yang sempat mewarnai relung hati yang basah dengan tinta penantian. Mawar yang akan hamba persunting, yang akan hamba petik ternyata tak lagi berada di tangkainya. Ia telah luruh ke tanah merah, beserakan tak karuan, tak jelas lagi juntrungannya. Hamba tak habis mengerti, mengapa semua ini harus terjadi? Warna yang tadinya memerah, kini berubah kecoklat-coklatan, menjadi keriput, tak sesegar seperti minggu kemarin. Hamba menghampirinya, duduk termenung seperti seorang bocah yang merengek meminta mainan yang telah rusak. Dengan terbata-bata hamba berusaha menyusun kata-kata, menuai kalimat-kalimat. Namun mulut hamba teramat kelu, tak bisa lagi dengan sporadis menelurkan deretan huruf.

"Selamat pagi. Masihkah ada keinginan untuk menikah dengan ketidaksempurnaanku? Inilah aku, sang mawar yang sempat membuatmu terkagum. Mengapa wajah anda tercengang dan seolah tak memahami hakikat hidup?"

"Mengapa anda menjadi seperti ini? Apakah gerangan yang salah?"

"Tak ada yang patut disalahkan. Ini adalah siklus kehidupan. Hamba hanya bisa bertabah menghadapi takdir yang membelenggu. Ini jalan yang harus hamba jalani."

"Tapi hamba mencari istri yang sempurna, Mawar."

"Jika demikian, aku bukanlah belahan jiwamu."

Hamba beranjak dari tempat itu. Kekecewaan menghantui setiap langkah yang hamba bangun. Air mata menderas. Mawar yang sempat mencengkram jiwa, kini hanya onggokan ketakutan yang tak pernah hamba mimpikan sebelumnya.

***

Kini hamba berjalan lagi menyusuri waktu, mencari istri yang sempurna. Di tengah perjalanan, hamba melihat merpati yang terbang, menari di udara. Sayap-sayapnya ia sombongkan ke seluruh penjuru alam. Sungguh cantik ia, membuat cemburu para petualang. Lagi-lagi terbersit sebuah keinginan. Keinginan klasik: Inilah istri yang sempurna, semoga hamba bisa mendapatkannya. Merpati itu hinggap di ranting pohonan. Hamba memberanikan diri untuk memulai percakapan.

"Wahai merpati, tadi hamba melihatmu bercengkrama dengan angin. Bulu putihmu yang kudus, menjadikan harapan dalam batin kembali tumbuh."

"Apa yang hendak anda inginkan?"

"Hamba mencari istri yang sempurna. Andalah yang hamba cari."

"Betulkah aku yang anda cari?"

"Ya tentu. Hamba ingin anda terbang bersama hamba, membangun sebuah keindahan, mengarungi bahtera kehidupan."

"Jika demikian, silahkan tangkap aku. Apabila anda berhasil menangkap diriku, aku berani menjadi belahan jiwa anda. Aku akan belajar menjadi apa yang anda inginkan."

"Tapi bagaimana mungkin hamba bisa menangkap anda? Anda mempunyai dua sayap yang indah dan memesona, sedangkan hamba hanya manusia yang bisa menerbangkan imajinasi saja, selebihnya hamba adalah pemimpi yang takut dengan kehidupan."

"Segala sesuatu mungkin saja terjadi, asalkan ada maksud yang jelas dan lurus. Lebih baik anda pikirkan kembali niatan anda itu. Betulkah aku pasangan yang anda cari? Maaf, hamba aku bercengkrama dulu dengan angin, sampai jumpa."

Hamba tak bisa berkata banyak, merpati telah terbang bersama angin. Angin, oh...rupanya kekasih sejati merpati adalah angin. Hamba tak mau merusak takdir mereka. Bagaimana kata dunia kalau hamba dengan paksa menikahi sang merpati? Dunia akan mencemooh hamba sebagai manusia paling bodoh yang pernah dilahirkan. Tapi kemanakah lagi hamba harus mencari pasangan jiwa?

***

Itulah kabar hamba dulu. Meniti berbagai penderitaan untuk menyempurnakan segala beban yang melingkar di dasar palung jiwa hamba. Itulah gelagat hamba dulu, seperti seorang pecinta yang berkelana tak jelas arah dan tujuan, menghujani kulit lepuh para bidadari, menjadikan mereka gundah, berenang di atas lautan hampa. Begitu juga hamba. Ya, kabar hamba dulu! Memekik cinta yang bergemuruh, membadai, bercengkrama, meraja, bersengketa, meracau seperti burung kondor yang rindu bangkai-bangkai kematian. Dulu hamba tersesat dalam labirin sunyi tanpa nama. Hamba nyaris seperti mayat yang bergentayangan di siang hari, diperbudak angan-angan, bertubi-tubi mulut hamba memukul angin.

Sampai suatu malam, ketika keheningan mengambang di udara, berderinglah sebuah telepon selular yang teronggok di atas sajadah harapan. Kala itu hamba tidur lelap, mencipta mimpi yang samar. Hamba dibangunkan oleh gemuruh suara ring tone. Anehnya, suara selular itu tidak lagi menggelayutkan melodi seperti biasanya. Suaranya aneh tapi nikmat dan menyejukkan. Kalau tidak salah seperti ini: Allahuakbar....Allahuakbar...Allahuakbar... Kontan saja hamba terhenyak dan sempat kaget. Hamba mencoba memicingkan mata yang berat seperti terbebani satu ton serbuk besi. Di dinding kamar hamba melihat detak jam yang mengarah pada nomor tiga. Masih sepertiga malam. Siapa gerangan yang berani mengusik persemayaman indah ini? Lalu hamba mulai merunut kata-kata.

"Halo, siapa anda? Mengapa membangunkan hamba? Biarkan hamba beristirah barang sejenak." Hening, tak ada jawaban. Hamba pikir, ini pasti gelagat orang jahil yang mencoba berimprovisasi. Tapi ketika hamba mau menutup telepon selular, hamba mendengar suara yang menggelegar. Bukan, suara ini bukan dari telepon selular, tapi dari segala penjuru mata angin. Keringat mulai menghujan, ketakutan bersalaman di batin, air mata tak bisa hamba bendung, dan rasa rindu mencengkram hamba dari belakang, rindu yang tak terdefinisi. Mungkinkah doa-doa hamba yang terdahulu akan terkabul? Siapakah gerangan yang bicara? Setelah bermilyar doa berjejalan di udara, hamba harap seuumpt cahaya itu yang bicara Ya, semoga bukan kepalsuan yang bicara. Suara itu makin keras terdengar. Suara itu berkata seperti ini.

"Betulkah kau mencari istri yang sempurna?"

Dengan terbata-bata hamba bilang, "Ya...ya..hamba mencari istri yang sempurna. Mampukah anda mengabulkan keinginan hamba yang belum terwujud ini?"

Suara itu kembali berujar. "Berbaringlah, lalu tutuplah matamu. Bukalah ketika suaraku tak terdengar lagi." Hamba ikuti keinginannya. Hamba tutup mata hamba, dan berbaringlah. Riangnya hati hamba, sebentar lagi hamba akan berjumpa dengan istri sempurna. Jodoh hamba akan hadir. Ah, suara itu hening. Hamba mulai memicingkan mata. Hamba lihat di sekeliling. Mengapa yang terlihat hanya gumpalan-gumpalan tanah yang kecoklatan? Mengapa begitu sejuk? Kemudian hamba melihat pakaian hamba. Putih! Semua serba putih. Bukankah ini kain kafan? Alam barzah, pikir hamba. Lalu hamba melihat sesosok tubuh datang menghampiri, begitu bercahaya, cantik rupawan.

"Siapa anda?"

"Hamba adalah amalan anda. Hamba tercipta dari anda, istri sempurna yang anda ciptakan sendiri. Menikahlah dengan hamba, sambil menunggu semua manusia kembali ke alam sunyi ini."

Begitulah kabar hamba kali ini. Ada lagi yang mau mencari istri sempurna?Description: Mencari Istri Sempurna Rating: 4.5 Reviewer: seputarwisata.com - ItemReviewed: Mencari Istri Sempurna


Shares News - 08.26
Read More Add your Comment 0 komentar


Ada Hikmah di Negri Sakura



“Assalamu’alaikum”, ku dengar salam suami.
“Wa’alaikumussalam”, jawabku tanpa beranjak dari meja setrika. Ah, kebiasaan jelekku di tahun kelima pernikahan. Tampak beda di kala awal-awal nikah dulu. Mendengar motornya pun, sudah berlari ke arah pintu. Mulai krisis rupanya ruhiyahku….

“Dik, sini sebentar”, berkata suamiku sambil menekan power komputer.
“Sebentar, sedikit lagi Mas, tinggal baju Dede yang belum disetrika”. Duh, bertambah lagi dosaku yang tidak segera memenuhi panggilan suami.
“Sini… Sebentar aja, penting nih”.

Kulihat sepintas di layar komputer. Oh, rupanya suami dari warnet. Tampak tampilan e-mail di komputer. Yah, suami biasanya ke warnet, hanya membuka e-mail tanpa membacanya. Kecuali beberapa e-mail penting. E-mail dari temannya dan temanku biasanya hanya di kopi, dan dibaca santai di rumah. Menghemat biaya katanya.

Kumatikan setrika, dan berjalan menghampirinya, setelah mengambil segelas air putih di meja makan. Tampak e-mail dari Prof. Seiko Taniguchi, professor Jepang yang telah tiga tahun ini sering dikontak suami, agar bersedia menjadi supervisornya. Tanpa semangat kubaca e-mail itu. Tertegun. Tak Percaya. Kaget dan entah apalagi, “... See you in Fukuoka.”, itulah kalimat terakhir yang membuat jantungku berdegup kencang. Kutengok ke belakang, ternyata suami sudah tidak di atas kursi lagi, melainkan sedang sujud syukur di tempat yang biasa kami pakai untuk shalat. Ah, rupanya tadi di warnet belum sempat sujud syukur Segera ku susul dia, sujud bersama, dengan rasa penuh syukur. Alhamdulillaah, akhirnya keinginan kita untuk melanjutkan sekolah di Negeri Sakura terpenuhi juga. Air mata berlinang, meluapkan rasa gembira yang tak terkira. Alhamdulillaah, syukurku tak henti-hentinya.

Dua bulan setelah pengumuman itu, berpamitan dengan tetangga, teman dan saudara, akhirnya kutinggalkan tanah air demi sebuah tujuan dan harapan yang kami bangun semenjak ada cita-cita melanjutkan sekolah di luar negeri.

Kupandangi sesaat, sebelum kutinggalkan rumah sangat sederhana, tipe 21, luas 75m persegi yang belum selesai dibangun. Tersenyum, mengingat kata anak tetangga, “Masak rumah seperti ini mau ditempati to, wong belum jadi kok”, bahasa Indonesia medok Jawa khas Semarang. “Ah, insya Allah nanti kan berubah…”, ups! Tak kulanjutkan khayalanku. Astaghfirullaah.

***

Jepang, akhirnya kita sekeluarga bisa berkumpul di negeri ini. Hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Setelah melihat kondisi dan keadaan di Jepang, ternyata tak semua cita-cita dan impianku terlaksana. Impian ingin melanjutkan sekolah lagi, kandas di jalan. Mengingat susahnya mencari beasiswa di sini. Sekolah dengan biaya sendiri, rasanya tidak mungkin. Akhirnya, ku semangat belajar nihonggo, aku ingin menguasai bahasanya. Namun, itu pun hanya semangat sesaat yang tak mampu kupertahankan, melihat sangat susahnya nihonggo, kursus yang hanya setengah-setengah, karena memang hanya kursus gratisan, dan bila ingin kursus yang benar-benar kursus, biaya juga tak terjangkau, akhirnya aku pun menyerah juga. Aku bukan tipe orang yang bisa belajar sendiri.

Terkadang terbersit keinginan untuk bekerja, mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya. Kendala bahasa menjadi hambatan utama. Kalau dihitung-hitung pun jatuhnya tak seberapa, kebijakan-kebijakan Jepang di sini. Semakin besar pendapatan, pajak yang dikenakan juga semakin tinggi, baik itu asuransi kesehatan, biaya sekolah anak, sewa rumah, akhirnya uang yang tersisa tak sebanding dengan tenaga yang dikeluarkan. Sedangkan bila aku tak bekerja, suami yang gakusei di hitung zero penghasilan, dan hampir semua kebutuhan hidup di subsidi, mulai sekolah anak gratis, sewa rumah murah serta asuransi kesehatan murah.

Tidak hanya aku yang ingin bekerja, ibu pun sempat berpesan, supaya memanfaatkan waktu sebaik mungkin selama di Jepang, baik sekolah ataupun bekerja, dan hampir semua saudara-saudara mempunyai harapan yang sama.

Aku teringat Bu De, ketika menghaturkan sebuah amplop putih saat Pak De meninggal, “An, kamu sudah kerja?”, katanya serasa tidak enak menerima uang bukan hasil keringatku sendiri.

“Duh, Bu De, uangku dan uang suami kan sama saja...”, pikirku tanpa berani mengatakan langsung. Hanya jawaban, “Belum Bu De, nyuwun pangestunipun kemawon”, jawabku dengan mata memerah.

Teringat lagi aku, saat-saat kuliah dulu. Jarak yang begitu jauh, menyebabkan aku pulang setengah tahun sekali, saat libur semester. Tiap kali main ke sana, selalu pulangnya diambilkan uang dari stagennya, sambil memelukku beliau bilang, “An, jangan dilihat besarnya ini hanya tondo tresno ya...” Aku pun terharu menerimanya. Yach, apalah artinya uang seribu dua ribu di tahun 1998-an, setelah krisis. Mungkin hanya sebungkus nasi rames di warung dekat kostku.

***

“BUZZZ!”, terdengar dari komputer ada yang memanggil.

Ah, rupanya temanku di nun jauh di pulau sana di Jepang ini. Teman yang hanya bertemu di dunia maya, namun begitu dekat di hati ini. Alhamdulillaah, atas rahmat Allah dengan kemajuan teknologi di Jepang ini, membuatku memiliki banyak sahabat yang bisa saling menasihati, menghibur dan bercanda. Dan mengalirlah serangkaian nasihat yang menyejukkan hati ini.

Sambil berchatting ria, aku baca milis muslimah di Jepang ini. Milis yang penuh hikmah, pengetahuan dan ukhuwwah. Walaupun selama ini hanya menjadi peserta pasif, rasanya tidak pede menuangkan tulisan dalam milis ini, mengingat kemampuan yang tak seberapa. Senang dengan obrolan, sharing yang kubaca. Berbunga hati ini bila ada yang menyapa. Dan iri hati ini melihat muslimah lain yang bisa begitu aktif menulis.

Selesai chatting dan puas membaca e-mail yang masuk, aku search di Google mencari resep masakan. Yap! Ini menarik, dadar gulung coklat isi vla. Dadar gulung asli, isi enten-enten justru menguras kantong, mengingat harga kelapa parut di sini lumayan mahal. Teringat aku di Indonesia, wuah…mana pernah aku bikin penganan untuk keluarga. Tinggal ke warung dan beli jadi. Paling-paling bikin pisang goreng saja. Hampir setahun di sini, kuingat-ingat kue yang telah berhasil aku buat, soes, ponds cake, cake pisang, pudding caramel, klepon juga risoles serta sosis solo dan makanan yang sangat tradisional sekali, timus ubi jalar, bahkan menjadi resep andalan bila ada matsuri. Ah, di sini aku jadi penjual timus, hehehe… Tersenyum aku mengingat semua itu.

***

“KRINGG!”, terdengar telepon berbunyi.

Temanku mengajak rapat TPA dilanjutkan belajar bahasa Arab bersama orang Mesir. Alhamdulillaah, di negara yang tidak beragama ini aku justru ada semangat untuk mengkaji Islam lebih jauh. Di Indonesia, guru bahasa Arab berlimpah, waktu pun banyak. Namun tak pernah terpikirkan untuk belajar bahasa Arab secara serius. Alhamdulillaah...

TPA... Mana pernah terpikir olehku untuk mengajar TPA di komplek rumahku. Ada satu dua orang anak yang terpaksa ikut TPA RT lain, yang jaraknya agak jauh dari rumah. Dan tak pernah sedikit pun terpikir untuk membantu, atau sekedar menyumbangkan tenaga. Ah, makanya aku sempat malu, namun juga bersyukur, keluarga yang sekarang menempati rumahku, merintis sebuah TPA khusus untuk RT rumahku. Dan berupaya mendirikan sebuah mushalla di depan rumah kami, yang kebetulan masih tanah kosong. Alhamdulillaah, semoga bila saatnya pulang nanti, lingkungan rumahku sudah agamis. Ah, dasar maunya enak sendiri. Kenapa dulu tak pernah berusaha untuk menciptakan lingkungan yang baik untuk anak-anak.

***

Alhamdulillaah, walaupun tidak bisa memenuhi harapan ibuku dan juga harapanku sendiri untuk sekolah ataupun bekerja mengumpulkan uang sebanyak-banyak, namun banyak sekali hikmah di negeri Sakura ini. Dan itu semua tidak bisa dinilai dengan barang ataupun uang sebesar apapun.

Yah, inilah yang nanti akan kuceritakan kepada semua keluarga, bila saat pulang nanti disambut dengan pertanyaan, “Kamu di Jepang ngapain aja?...” Seperti juga beberapa saudara yang selalu menanyakan kegiatanku disela-sela obrolan saat telepon atau e-mail. Ah...Description: Ada Hikmah di Negri Sakura Rating: 4.5 Reviewer: seputarwisata.com - ItemReviewed: Ada Hikmah di Negri Sakura


Shares News - 08.25
Read More Add your Comment 0 komentar


Amarah Laut dan Cinta Terputus



Allah, Allah, Allah. Hembusan nafas-Mu menjelma butiran-butiran salju yang turun satu-satu. Titik-titik putih yang lembut melayang di tengah kegelapan mahaluas. Tengah malam. Kota ini masih terjaga, tepat di jantung Eropa. Kerlap-kerlip lampu menjelma jutaan kunang-kunang terbang di kejauhan. Kota tua di jantung Eropa, meringkuk berselimutkan musim dingin yang perlahan mencapai puncaknya. Temperatur udara menurun dengan cepat, beberapa derajat celsius di bawah nol.

Aku belum tertidur, kekasihku. Mataku masih terpicing. Aku masih menyelam di dalam lautan jiwaku yang gelisah. Memikirkanmu. Di manakah kamu, kekasihku?

Allah, Allah, Allah. Nafas-Mu menyentuh ujung-ujung bulu mataku, membasahi kelopak mataku yang membengkak seperti permukaan kulit kerang yang tebal. Adakah Kau dapat merasakan gemuruh langit kelabu di dalam dadaku? Hujan yang turun di bulan Desember. Begitu senyap di luar, begitu bergejolak di dalam diriku.

Seperti gelombang laut yang meluruk masuk daratan berkilo-kilometer jauhnya. Di Banda Aceh, kota kelahiranku. Ya, Allah, aku merindukan kota kelahiranku itu. Seperti apakah sosoknya sekarang setelah bencana itu? Aku merindukan setiap sudut kota yang kukenal dan telah menjadi orang tua asuhku sejak lama. Ia menyaksikanku tumbuh. Dari seorang anak yatim piatu menjadi seorang perempuan dewasa, istri, dan ibu, yang berani terbang jauh ribuan kilometer ke jantung Eropa untuk menimba ilmu. Banda Aceh-ku, seperti apakah sekarang rupamu?

Oh, aku merindukan pemandangan Masjid Raya Baiturrahman yang dulu begitu kukenal. Arsitekturnya yang megah dan menenteramkan mata menjadi penanda penting kotaku itu. Bentangan Krueng Aceh, sudut-sudut kawasan Rex, tempat favorit untuk ngobrol bersama teman sambil menikmati makanan dan kopi Aceh. Aku merindukan Pakcik Hazil dan Makcik Khadijah, kedua orang tua angkatku, manusia mulia, yang telah membesarkanku dengan curahan kasih sayang yang takkan mungkin kubalas. Betapapun aku menyerahkan seluruh hidupku untuk membahagiakan mereka. Aku merindukan Bang Hasan, suamiku tercinta, yang menggenggam separuh jiwaku, dan separuh jiwanya juga berada dalam genggamanku.

Orang-orang tercinta. Di manakah kalian? Aku limbung dan tak lagi bisa menangis. Begitu saja aku kehilangan kontak dengan kalian. Masih hidupkah? Atau sudah tiada? Jika mati, siapa memandikan dan mengafani jasadmu? Siapa memimpin shalat jenazah dan menyerukan Adzan menjelang ditutupnya tanah liang lahatmu? Di manakah nisan kuburmu? Ataukah semua itu terlalu mewah untuk keadaan darurat di sana, sehingga aku harus mengikhlaskan jika jenazah kalian yang hanya terbungkus plastik dikubur massal bersama korban-korban lainnya di lubang besar yang becek?

Ya Allah, hidup dan mati dalam genggaman-Mu. Aku tak lagi bisa menangis. Karena air mata takkan mengubah apa pun. Banda Aceh. Seperti apakah kotaku itu sekarang? Aku melihat gambar-gambar mengerikan terserak di internet, televisi, dan koran pagi. Mayat- mayat telantar di berbagai sudut kota dan desa. Gambar-gambar kehancuran kota-kota pesisir di Nanggroe-ku. Aku melihat semuanya. Banda Aceh, Meulaboh, Calang, Lhok Nga, Simeuleu. Semuanya.

Ya Allah Yang Maha Rahman, adakah jawaban untuk itu semua? Aku tak tahan dengan kebisuan-Mu. Minggu pagi, 26 Desember 2004, setelah gempa berkekuatan 8,9 skala Richter di kedalaman Lautan Hindia, disusul hantaman gelombang Tsunami itu, hidup tak akan pernah lagi sama bagi setiap orang Aceh. Tak akan pernah sama. Juga buatku.

***

Malam semakin larut. Di luar, salju semakin deras turun. Pikiranku masih mengembara. Aku ingin pulang. Mengemas barang-barangku sesegera mungkin. Mencari tahu kabar orang-orang tercinta. Mungkinkah itu kulakukan sekarang? Aku teringat telepon terakhir Bang Hasan dari Banda Aceh, malam terakhir sebelum datangnya bencana itu. Pesan yang harus kupatuhi. Selesaikan dulu studimu. Keadaan masih belum terlalu aman. Mudah-mudahan keadaan menjadi lebih baik buat kita dan buat Aceh di tahun-tahun mendatang. Oh, serasa suara Bang Hasan terus tergiang di benakku.

Bang Hasan. Senyumnya yang lembut, sorot matanya yang mengingatkan pada rembang petang tatkala matahari bersiap tenggelam, membuatku sulit menolak ketika ia memintaku mau menjadi istrinya beberapa tahun lalu. Hanya berselisih sebulan setelah tiran tua yang memerintah lebih tiga dasawarsa itu mengundurkan diri. Aku baru menyelesaikan studi S1. Kenaifan membuatku memiliki harapan berlebih terhadap masa depan Aceh. Kupikir, setelah terjadi pergantian kepemimpinan nasional di ibu kota negara, keadaan akan menjadi lebih baik buat Nanggroe-ku.

Aku salah. Bang Hasan-lah yang menyadarkanku. Betapa Aceh sudah kebal dikecewakan orang-orang dari Pusat. Kurang apa yang diberikan Aceh untuk negeri ini, kata Bang Hasan dengan berapi-api. Siapa yang tidak mengakui kegigihan para pahlawan nasional dari tanah rencong? Aceh-lah satu satunya daerah yang tidak mampu ditaklukkan secara utuh oleh Kolonialisme Belanda hingga menjelang masuknya balatentara Dai Nippon.

Dalam keadaan darurat Revolusi Kemerdekaan, para perempuan Aceh pula yang dengan sukarela mengumpulkan perhiasan berharga milik mereka, agar Republik ini untuk pertama kalinya bisa memiliki pesawat sendiri untuk menerbangkan pemimpin nasionalnya, kata Bang Hasan sambil menunjuk DC-3 Seulawah yang kini terpajang di lapangan Blang Padang, Banda Aceh.

Ah, Bang Hasan. Matahari hidupku. Ia selalu berbicara dengan bersemangat jika sudah menyinggung masalah ketidakadilan yang dialami tanah kelahiran kami. Cerita selanjutnya aku pun tahu. Kekecewaan demi kekecewaan, mulai dari digabungnya Aceh sebagai bagian Provinsi Sumatera Timur pada zaman Orde Lama, hilangnya kekayaan alam dikeruk perusahaan multinasional, pemberlakuan status Daerah Operasi Militer (DOM) yang membawa korban perempuan, anak-anak, dan orang-orang tidak bersalah.

Mereka memilih membunuh lalat yang menjengkelkan dengan meriam, tambah Bang Hasan dengan nada pahit. Aku hanya bisa memandang Bang Hasan dengan tatapan iba. Tentu kekasihku itu mengerti betul. Ia tahu apa artinya kehilangan orang yang dicintai, saudara kandung, pada masa pemberlakuan DOM di Aceh.

Bang Hasan memang hanya seorang intelektual. Seorang dosen berhati lembut yang tidak mungkin bergabung dengan gerakan separatis bersenjata. Namun, sebagai seorang terdidik, ia pun selalu berbicara lantang perihal ketidakadilan yang dialami tanah kelahiran kami. Karena itulah, kecemasan telah menjadi bagian sehari-hari dalam kehidupan rumah tangga kami. Sudah biasa bagi kami jika merasa ada seseorang tengah memata-matai kami. Teror melalui telepon pun sering kami terima. Bang Hasan pun pernah merasakan beratnya interogasi aparat keamanan dan ditahan di balik tembok berterali besi. Namun, tak pernah sekali pun kusesali pilihan hidupku bersama Bang Hasan.

Tepat sebelum darurat militer diberlakukan di Aceh, Bang Hasan-lah yang memintaku berangkat ke Eropa untuk menerima tawaran beasiswa melanjutkan pendidikanku di sana. Bawalah Ilham, katanya sambil tersenyum. Ia bisa menjadi malaikat kecil pelindungmu di sana, katanya sambil mencubit pipi anak kami satu-satunya itu.

***

Allah, Allah, Allah. Langit masih gelap di luar sana. Kulihat Ilham-ku terbangun dari tidurnya. Ia biasa begitu. Suka terbangun tengah malam, meminta minum atau diantar ke kamar mandi. Ia mengucak-ucak matanya. Melihatku.

"Bunda…"
"Ya, Nak…"
"Bunda belum tidur? Bunda masih terus menangis?"
Aku tidak menjawab pertanyaannya. Aku mengalihkan perhatiannya dengan bertanya, "Ilham mau minum?"
Ia mengangguk. Aku mengambilkan air minum untuknya. Usianya baru lima tahun. Ilham terlalu tenang untuk anak seusianya. Terkadang aku merasa seperti tengah berhadapan dengan orang dewasa yang memiliki kematangan spiritual. Sering aku berpikir, mungkinkah Ilham tergolong anak indigo, anak yang memiliki bakat khusus berupa kekuatan intuisi dan indera keenam?

Semalam sebelum datangnya bencana itu, Ilham tampak lebih pendiam daripada biasanya. Matanya berkabut. Kutanya, ada apa? Dua butir air mata jatuh di pipinya. Aku merasa Ayah, Kakek, dan Nenek, akan pergi jauh meninggalkan kita, katanya dengan terbata-bata. Pergi? Pergi ke mana? Mereka tidak akan pergi ke mana-mana. Mereka menunggu kita di kampung halaman. Mengapa Ilham berkata begitu?

***

"Bunda, kok melamun?"
Mataku yang bengkak mengerjap. Ya, aku masih di sini, bersama Ilham anakku. Ribuan kilometer jauhnya dari tanah air sendiri.
"Bunda ingat Ayah, ingat semuanya. Bunda mencemaskan keselamatan mereka."
Ilham sudah tahu dari ceritaku soal bencana itu. Bahwa sesuatu yang sangat dahsyat telah menimpa kampung halaman kami semua.

Ilham memelukku. "Bunda jangan sedih terus," katanya.
"Mengapa Bunda tidak boleh bersedih?"
"Tadi aku bertemu Ayah dalam mimpi. Tidak usah mencemaskan kami, begitu pesan Ayah."
"Ayah bicara seperti itu dalam mimpi Ilham? Lalu apa lagi?"
"Kata Ayah, kelak kita akan berkumpul kembali bersama-sama di tempat terbaik yang disediakan Allah untuk kita."
Ya Allah, kupeluk anakku satu-satunya. Mataku kembali basah. Inikah isyarat dari-Mu, Tuhanku? Bahwa aku harus merelakan kepergian orang-orang yang kucintai?

Baiklah. Aku belum mati. Aku hanya bersedih. Kesedihan tidak akan mampu membunuhku. Aku perempuan Aceh. Perempuan Aceh sudah berkawan dengan kesedihan sejak lama. Aku menatap Ilham-ku. Aku tahu sekarang apa yang harus kulakukan. Aku akan bertahan hidup untuknya.Description: Amarah Laut dan Cinta Terputus Rating: 4.5 Reviewer: seputarwisata.com - ItemReviewed: Amarah Laut dan Cinta Terputus


Shares News - 08.24
Read More Add your Comment 0 komentar


Gara2 Gosip



Si Dini memang keterlaluan hari ini. Dia bilang sama teman-teman rohis lain kalau aku pacaran sama Ryan. Huh menyebalkan! Dasar tukang gosip! Kalau saja bukan sahabat, sudah aku hajar dia!!! Sebenanya aku ingin acuh dengan gosip murahan itu. Tapi, aku tidak enak sama teman yang lain apalagi sama Ryan dan mbak Wulan. Disangkanya aku yang duluan suka sama Ryan. Maklumlah, sangkaan itu pasti ada, soalnya aku kan memang bisa dibilang anak nakal yang baru insaf. Dan bergabungnya aku di Rohis, baru beberapa bulan terakhir ini. Pun dengan jilbab yang kupakai saat ini. Dan yang pasti, teman-temanku tidak akan menuduh Ryan yang memulai. Karena dia kan ketua Rohis sekolah kami. Juga sekaligus pembimbing mentorku. Apalagi suatu hari, saat memberikan materi, Ryan sempat bilang, kalau pacaran itu tidak ada dalam Islam.

"Emangnya, ukhti Eka sudah siap menikah? Kalau sudah ya syukur. Tapi gimana dengan sekolahnya?" Sindir mbak Wulan tadi siang. Aku hanya terdiam mendengar sindiran pembimbing tahsinku itu. Sakit memang disindir seperti itu. Tapi ya, apa boleh buat. Aku tak mau membela. Karena pembelaanku akan percuma saja. Karena hampir seluruh murid sekolah ini tahu dan percaya tentang gosip murahan itu. Pun termasuk guru-gurunya. Maklumlah Ryan kan memang terkenal di sekolah ini. Selain alim dan baik, ia juga murid terpintar yang sering sekali membawa nama harum sekolah dengan kepandaian tilawah qurannya. Bukan itu saja, wajahnya yang tampan, membuat Ryan semakin dipuja cewek-cewek sekolahku. Ya, beda-beda tipislah dengan Roger Danuarta, begitu cewek-cewek kelasku bilang.

25 Maret 2002

"Ka, kamu dapet salam lho dari Ryan", Dini mencolek bahuku. Dan entah kapan dan dari mana datangnya tiba-tiba saja si biang gosip ini duduk di sebelahku yang sedang asyik membaca buku di perpustakaan sekolah.

"Alaiki wa'alaihissalam." Jawabku acuh.
"Heh, kok acuh begitu sih, seneng dong! Masak disalamin orang ganteng dan alim kok dingin aja." godanya.
"Eh, tahu enggak si Ryan kan…."
"Sst, jangan berisik" potongku sebelum Dini melanjutkan gosip-gosip murahannya.
"Iiih dengerin dulu, oke deh aku pelan-pelan aja ya ngomongnya." bisiknya setengah memaksa.
"Din, ini perpustakaan, dan ini tempat untuk baca buku, bukan untuk ngegosip!" jawabku kesal.
"Tapi kamu musti dengerin ini, Ka. Ryan naksir lho sama kamu!" katanya, tak menghiraukanku.
"Bodo!" kesalku, dan lalu pergi meninggalkan Dini.

27 Maret 2003

"Ukhti Eka, boleh saya bicara?" tanya Ryan dingin padaku, usai shalat dzuhur di halaman masjid sekolah. Deg!… tiba-tiba saja, aku teringat dengan omongan Dini tempo hari. Kalau sebenarnya Ryan naksir sama aku. Jangan-jangan… Ryan memang mau membicarakan itu padaku. Maaf bukannya aku geer, tapi kenapa dia bisa seceroboh ini. Mestinya ini tidak boleh terjadi. Dia kan seorang ikhwan. Bukannya dia pernah bilang kalau pacaran dalam Islam itu tidak ada. Kenapa…., ah aku tak mau menduga-duga.

"Boleh, tapi….gimana kalau saya bawa ukhti yang lain buat nemenin. Soalnya nggak baik kalau kita ngomong hanya berdua aja."

"Enggak perlu, saya Cuma sebentar saja kok. Saya Cuma mau bilang, sebaiknya simpan saja rasa cinta ukhti itu. Karena terus terang, saya kurang berminat untuk pacaran. Bukankah saya pernah bilang kalau pacaran itu…, ah ukhti tau sendiri, kan? Maaf, kalau penolakan ini melukai hati ukhti, Assalamualaikum!" Katanya datar tanpa ekspresi, dan lalu pergi.

Dan deg.. deg…, jangtungku berdetak semakin keras. Bengong. Sampai beberapa saat, aku masih terdiam tak mengerti. Dan… "Astagfirullah!!!", sadarku tiba-tiba. Ya, Allah apa ini?

27 Maret 2002

Malam hari… Aku masih memikirkan kejadian tadi siang. Apalagi kalau teringat dengan ucapan Ryan tadi. Sungguh memalukan. Mukaku benar-benar seperti ditampar, bahkan mungkin seperti ditendang atau ditonjok. Terus terang, sakit rasanya hati ini. Dan sungguh, aku belum pernah sekalipun merasakan sesakit dan semalu ini. Aku benci kamu, Ryan!

13 Mei 2002

Sudah dua bulan lebih aku tak menegur Ryan. Aku tahu yang aku lakukan adalah sebuah kesalahan. Apalagi menurut mbak Wulan, Rasulullah pernah bersabda, bahwa tidak akan masuk syurga orang yang memutuskan silahturahmi. Pun haram bagi seorang muslim mendiamkan (memusuhi) saudaranya lebih dari tiga hari. Tapi jujur, aku terlanjur sakit hati dan membencinya. Rasa respek yang semula tertanam dalam hatiku. Kini, musnah sudah. Yang ada dalam hatiku, hanyalah kebencian dan kebencian. Bahkan ketika kami berpapasan pun, sama sekali aku tak mau melihatnya. Walaupun ketika berpapasan seringkali ia tersenyum dibarengi mengucapkan salam terlebih dahulu padaku.

Dan, "Assalamualaikum ukhti Eka, maaf ukhti, sepertinya lama sekali ya ukhti nggak ikut pengajian", Katanya kepadaku. Saat itu kami berpapasan di Perpustakaan.

Aku tak menjawab ucapan salamnya. Aku hanya tersenyum sinis padanya dan lalu pergi meninggalkannya. Ya memang, semenjak gosip itu menyebar luas, aku memang jadi malas untuk ikut pengajian lagi. Kadang Mbak Wulan sering bertanya mengenai ketidak hadiranku. Tapi aku tak peduli! Bahkan, seringkali aku membohonginya dengan berbagai alasan.

13 Mei 2002

Malam hari… Seperti hari-hari sebelumnya, aku tak bisa tidur lagi malam ini. Ya, selalu begitu kalau aku bertemu Ryan siangnya. Kebencianku semakin besar padanya. Namun, kebencian itu selalu dibarengi penyesalan. Ya, aku selalu menyesal kalau telah mengacuhkannya seperti tadi siang. "Aaah…, gara-gara si Dini sih." kesalku dalam hati. Tiba-tiba tanpa terasa air mataku meleleh membasahi pipi ini. "Ya Allah, apa yang terjadi dengan diriku ini?" ratapku. "Padahal akukan baru saja ingin bertobat pada-Mu ya Allah", kataku semakin menjadi. Dan hujan Air mata pun terus mengalir tanpa henti. Sampai akhirnya, akupun tertidur lelap.

14 Mei 2002

Pagi harinya… seluruh badanku sakit dan kepalaku pusing sekali. Otomatis aku tak masuk sekolah hari ini. Dan kasian mama, gara-gara aku sakit, mama pun jadi ikut repot.

Tiba-tiba, "Ka, ada temanmu di bawah" kata mama dari balik pintu.
"Siapa, ma?"
"Enggak tahu mama nggak tanya, mau mama tanyain dulu?"
"Enggak usah ma, biar Eka turun aja!"

Dengan kepala yang masih berat, aku lalu turun ke bawah untuk menemui tamuku. Dan saat aku sampai di ruang tamu… tiba-tiba… Ya Tuhan, itu kan mbak Wulan, Ryan dan… Dini, ya itu Dini. Ya, Allah kenapa Dini berjilbab?

Belum habis kepenasaranku, tiba-tiba mbak Wulan dengan senyum hangatnya mencoba menghampiri dan memapahku. Diikuti Dini, yang kemudian berlari kearahku dan langsung memelukku.

"Ka, maafin aku ya?, Aku salah, aku jahat sama kamu." Dini menangis dipelukku.

"Iya, Ka, aku juga minta maaf karena telah menuduhmu yang bukan-bukan. Dini sudah cerita semuanya. Itu ia lakukan itu karena ia kesal dan iri padamu. Iri dan kesal karena kamu telah berubah. Dan Ia merasa kalau ukhti sudah meninggalkannya." kata Ryan.

Lalu kupeluk Dini semakin erat, "Din, siapa bilang aku akan meninggalkanmu?, Walaupun aku sudah berubah, rasa sayangku tak akan berubah padamu. Karena kamu sahabat terbaikku." kataku dengan perasaan lega.
"Makasih ya Ka!, kamu baik banget" ujar Dini.
"Din, kamu cantik lho pake jilbab!!".Description: Gara2 Gosip Rating: 4.5 Reviewer: seputarwisata.com - ItemReviewed: Gara2 Gosip


Shares News - 08.22
Read More Add your Comment 0 komentar


Anugrah Terindah



Anak lelaki itu berumur lima atau enam tahun. Ia mengenakan kemeja putih dan pullover kotak-kotak hijau dengan logo taman kanak-kanak di dada kiri. Di bahunya tersandang tas punggung merah dan di dadanya tersilang tali botol minuman. Ia kelihatan lucu dan manis.

Begitu naik ke dalam angkot, bocah itu menunjukkan hasil origaminya pada wanita yang mungkin ibunya. Seekor burung yang sedikit kusut dan penyok. Ia juga menyanyikan lagu baru yang diajari gurunya hari itu.

Lihat ibu keretaku yang baru
cukup besar untuk ayah dan ibu
roda tiga buatanku sendiri
dari kulit buah jeruk bali..."


Aku tersenyum geli mendengar suaranya yang agak sumbang tapi penuh semangat. Bocah itu balas tersenyum padaku, kemudian kembali asyik memberondong ibunya dengan berbagai cerita. Mulutnya tak henti mengunyah donat yang barangkali dibelikan ibunya di depan sekolah. Ibunya menyahut sesekali dengan anggukan atau gumaman setengah tak peduli, sementara tangannya mengibaskan lukisan krayon anaknya untuk menghalau panas.

Aku tidak menyalahkannya. Cuaca siang itu memang panas dan kemacetan jalan membuat udara pengap. Melihat bungkusan yang terserak di kakinya, aku yakin ia telah menghabiskan paginya untuk berbelanja kebutuhan dapur. Tak heran ia kelihatan sangat letih, mengantuk dan tak begitu bersemangat mendengar cerita anaknya di sekolah hari itu.

Atmosfer yang menyengat tidak mengalihkan perhatianku dari anak itu. Kureguk tiap kata dan lagu yang dinyanyikannya seperti pengelana kehausan yang menemukan wadi di tengah gurun. Alangkah rindunya aku akan semua itu. Aku tak ingin membandingkan anakku dengan bocah lucu di angkot itu, tapi mau tak mau Khalid singgah ke dalam benakku dan merusak kenikmatanku.

Setiap kali memeriksakan diri selama mengandung Khalid, bidan selalu mengatakan kehamilanku normal dan bayiku sehat. Karena itu aku dan suami sama sekali tak siap waktu dokter memberi tahu bahwa Khalid tidak normal. Ia lahir dengan Down syndrome.

Menyakitkan. Masa depan anakku sudah ditentukan oleh dokter hanya beberapa menit setelah kelahirannya. Khalid tidak akan tumbuh seperti anak normal dan dia tidak akan bisa menjadi orang dewasa normal yang mampu mengurus dirinya sendiri.

Selain itu dokter juga menemukan kelainan pada jantungnya yang harus diperbaiki dengan pembedahan. Ada juga gangguan mata dan tonsil. Hal yang menurut dokter biasa menimpa anak Down syndrome.

Shock yang kualami setelah melahirkan Khalid cukup berat hingga aku harus dirawat agak lama di rumah sakit. Aku sangat tertekan hingga bahkan tak bisa menyusui Khalid. Dokter memperkenalkanku dengan wanita pakar penanganan anak Down syndrome. Wanita itu memberikan buku-buku dan brosur kepada kami.

Tapi, semua yang kubaca malah semakin membuatku tertekan. Sejak dokter menyatakan bahwa aku positif mengandung, aku selalu berdoa dan bermimpi tentang seorang anak yang cerdas dan lincah. Anak yang akan kubimbing mengenal Allah dan Rasul-Nya. Yang akan kuajari mengaji dan shalat agar ia bisa mendoakan kedua orang tuanya. Ia akan kubawa tafakur alam ke tempat-tempat yang indah agar pandai bersyukur dan memiliki sifat tawadhu.

Aku akan memperkenalkannya pada saudara-saudaranya yang yatim dan papa agar hatinya lembut dan peka. Yang akan mencintai buku-buku seperti aku dan ayahnya. Anak yang akan jadi seorang pejuang di jalan Allah, demi kebangkitan dan kejayaan Islam seperti panglima gagah itu, Khalid bin Walid.

Kubayangkan jari mungil anakku menyusuri huruf-huruf dalam lembaran mushaf Al-Qur'an. Jika lelaki, ia pasti lucu dalam baju koko dan peci mungilnya dan jika perempuan, ia pasti manis dalam jilbab kecilnya yang berbunga dan berenda.

Rasanya aku bahkan sudah bisa mendengar suaranya yang bening melantunkan ayat-ayat suci itu. Suara terindah yang pernah kudengar.

Lalu ke mana bisa kukubur kecewaku saat mendapati Khalid tak mungkin mewujudkan semua impianku. Aku hanya bisa berdoa siang malam memohon kekuatan. Aku mengintrospeksi diri, mengingat kembali apa yang telah kulakukan hingga Allah menghukumku dengan memberikan Khalid.

Hingga suatu hari kalimat itu menohokku. Anakku adalah amanat-Nya, bukan hukuman, bukan aib. Hanya titipan, bukan milikku. Apakah aku berhak menggugat jika titipan-Nya ternyata tidak seperti anak-anak lain? Aku hanya ditugaskan menjaga dan mengasuhnya dengan cinta, karena ia dititipkan Allah yang rahman dan rahim-Nya tak pernah surut dari sisiku. Bukan tugasku menilai apakah Khalid layak jadi anakku atau tidak. Setelah itu aku kembali menemukan ketenangan.

Tapi tak urung kesedihan itu kerap. Sangat menyakitkan. Tiap kubawa Khalid ke dokter dan melihat ibu lain dengan bayi seumur Khalid, aku kembali terbenam dalam kepiluan. Entah untuk Khalid atau untuk diriku sendiri.

Bulan demi bulan berlalu. Sementara bayi lain mulai tertawa dan mengeluarkan suara-suara lucu, Khalid hanya diam. Ia memandang kosong ke depan.

Tiap hari suamiku dan aku harus bergantian merangsang otaknya dengan mainan warna-warna dan kerincingan yang ribut. Khalid baru menunjukkan reaksi saat usianya hampir delapan bulan.

Khalid baru belajar berjalan di usia dua tahun. Bicaranya tak pernah selancar anak-anak lain dan kosa katanya sangat terbatas. Ia tak bisa mandi dan berpakaian sendiri hingga usianya hampir sembilan tahun. Ia harus disuapi tiap waktu makan sampai ia bisa makan sendiri beberapa bulan terakhir ini.

Yang paling menjengkelkan, sulit sekali membiasakannya buang air di kamar mandi walaupun aku dan suamiku sudah mengajarinya selama delapan tahun dari sepuluh tahun usianya.

Mengajari Khalid salat dan mengaji hampir tak mungkin. Khalid hanya bisa mengikuti gerakan-gerakan salat tanpa bisa menghafal bacaannya.

Setelah beberapa lama, kami menyadari kesalahan kami dan mulai dari awal sekali. Mengakrabkan Khalid dengan Allah dan Islam. Sesuatu yang lebih mudah dilakukan dan dipahami Khalid.

"Di belakang rumah ada pohon jambuu..." suara lantang bocah berseragam TK diangkot itu mengembalikan perhatianku pada polahnya yang kocak. Tapi kali itu aku tak bisa menikmatinya tanpa merasa iri. Iri pada ibu yang tak menyadari besarnya nikmat Allah yang dimilikinya. Ada kegeraman dan rasa kasihan pada diri sendiri yang tiba-tiba bergolak dan menenggelamkanku.

Membuat dadaku sesak dan leherku tercekik. Aku tak tahu apakah harus menyesal atau gembira saat anak itu akhirnya turun dari angkot.

Di bangku yang mereka tinggalkan kulihat burung-burungan kertas itu gepeng. Kupungut dan kuperbaiki. Tiba-tiba mataku kabur oleh air mata. Khalid tak bisa melukis dengan krayon atau membuat origami. Koordinasi tangannya lemah sekali.

Dalam kepalanku yang gemetar, burung-burungan itu kuremas menjadi gumpalan kertas. Aku tak sanggup lagi menahan isak. Dengan suara tercekat kusuruh sopir berhenti. Kusodorkan ongkos dan turun, walaupun rumahku masih jauh.

Aku duduk di halte yang sepi. Menarik nafas dalam-dalam dan mengeringkan air mata. Saat aku menengadah mataku tertambat pada papan putih di seberang jalan. Sebuah masjid. Ya Allah, inikah teguran-Mu.? Aku menyeberang. Segera kuambil wudhu dan shalat dua rakaat. Air mataku menetes saat kubaca ayat kedua belas dari surat lukman... Anisykurlillahi....

Usai mengucap salam aku tercenung. Kekalutan yang sempat menguasai sudah berhasil kukendalikan. Aku merasa kosong, tapi damai. Lalu satu- satu fragmen kehidupan Khalid mulai kembali ke dalam benakku. Bukan gambaran muram tentang kekurangannya, tapi keistimewaan-keistimewaan kecil yang mengimbangi dan melengkapi hidupnya.

Khalid suka sekali musik. Ia sulit menangkap dan menghafal lirik, tapi kenikmatan yang terlukis di wajahnya saat mendengarkan musik adalah keindahan tersendiri. Ia juga tak pernah nakal dan usil, selalu ramah dan murah senyum. Ia tak pernah marah dan ngambek, dan jika dimarahi, cepat kembali ceria.

Ia sangat mencintai adiknya Fatimah, yang lahir empat tahun lalu. Kami sempat khawatir Khalid akan cemburu dengan kehadiran adiknya. Tapi ia malah antusias membantuku mengurus Fatimah. Sering kudapati Khalid duduk menatap adiknya yang tertidur dengan ekspresi terpesona yang tak terlukiskan.

Fatimah normal dan cerdas sekali tapi ia menerima abangnya tanpa syarat. Kemesraan di antara keduanya selalu menerbitkan syukur di hatiku dan ayah mereka. Mengurus Khalid memang menuntut kesabaran dan kegigihan ekstra dibandingkan mengasuh anak biasa. Tapi Khalid memang bukan anak biasa.

Ia telah mengajarkan kepada kami makna mencintai tanpa pamrih yang hakiki. Di zaman saat orang memburu segala yang superlatif; tercantik, terpandai, tergesit, anakku tidak akan bisa bersaing. Ia tidak mungkin menjadi teknolog, ekonom atau da'i tersohor.

Tapi apakah itu akan mengurangi cinta kami padanya? Mengurangi kegembiraan melihat prestasi-prestasi kecilnya yang dianggap remeh dan sepele orang lain seperti bisa berpakaian dan makan sendiri? Aku dan ayahnya tak akan memperoleh apa-apa darinya. Kemungkinan besar Khalid akan terus tergantung pada kami. Dan setelah kami tak sanggup lagi, mungkin pada Fatimah.

Tapi kami memang tak lagi mengharapkan apapun darinya. Kami hanya mencintainya. Kudorong gerbang rumah dan kuserukan salam. Sahutan riang menyambutku. Pintu terkuak. Fatimah menghambur memelukku sementara abangnya tersenyum lebar sambil berjalan goyah di belakangnya.

"Ibu bawa apa, bawa apa?" tanya Fatimah. Ia memekik ketika kukeluarkan sekantung mangga ranum dari keranjang belanjaku. Khalid tersenyum. Matanya yang semula kosong berbinar. Mangga adalah buah kesukaannya.

Aku masuk ke kamar untuk berganti baju setelah berpesan pada pembantu untuk mencuci dan mengupaskan mangga buat anak-anak. Saat aku keluar, mereka tidak berada di meja makan.

Kupanggil mereka dan kudengar sahutan dari halaman belakang. Di depan kandang burung parkit Fatimah melonjak-lonjak dan tertawa melihat abangnya dengan sabar menyodorkan potongan mangga lewat jeruji bambu.

"Ayo kuning! Jangan diam saja! Tuh diambil si hijau deh!" teriak Fatimah. Satu demi satu burung-burung parkit dalam kandang terbang menyambar potongan mangga dari tangan Khalid. Aku bertasbih. Mataku pedih. Sudah lama aku mengamati keistimewaan Khalid untuk mencintai dengan keikhlasan yang bersih dari egoisme anak seusianya. Cintanya sangat tulus pada burung-burung kesayangan suamiku, pada ikan hias dan ayam kate yang kami pelihara untuk mengajar anak-anak bertanggung jawab.

Bahkan pada bunga-bungaku di kebun. Ia gembira mengurus semua itu, walaupun tak pernah mendapat imbalan apapun dari kami. Kelembutannya terulur bahkan pada kucing-kucing liar yang sering diberinya makan atau anak-anak tetangga yang kerap mendapat bagian dari jatah kue dan buahnya tanpa menuntut balasan apapun.

Aku memang tak punya alasan untuk bersedih dan kecewa. Khalid mungkin tak bisa membaca dan mengaji. Tapi perasaannya halus dan penuh kasih sayang. Dan aku sangat bersyukur atas kelebihannya.Description: Anugrah Terindah Rating: 4.5 Reviewer: seputarwisata.com - ItemReviewed: Anugrah Terindah


Shares News - 08.21
Read More Add your Comment 0 komentar